AkademikaAktivitas

KH. Moenshif Nachrawi: Empat Alasan Mahbub Junaidi Jadi Ketum PB PMII Pertama

Embrio Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) tidak jauh dari hasrat/keinginan yang kuat mahasiswa-mahasiswa Nahdliyin untuk membentuk suatu organisasi mahasiswa yang berideologi Ahlussunnah wal Jama’ah (aswaja) secara Nasional. Dimana ketika waktu itu terdapat berbagai macam organisasi mahasiswa Nahdliyin namun masih bersifat lokal seperti Ikatan Mahasiswa Nahdlotul Ulama (IMANU) di Jakarta, Keluarga Mahasiswa Nahdlatul Ulama di Surakarta, Persatuan Mahasiswa Nahdlatul Ulama (PMNU) di Bandung serta Ikatan Pelajar Nahdlotul Ulama (IPNU) yang terwadahi pada department Perguruan Tinggi.

Alasan kuat lainnya dalam pendirian PMII ialah untuk menjawab segala persoalan pelik yang menimpa tanah air kala itu. Dimana pada detik-detik akhir orde lama, Indonesia dipenuhi dengan pemberontakan dan berbagai gejolak politik lainnya. Adanya issue tentang Negara Islam yang bertebaran-pun menambah keruh keadaan. Berangkat dari kondisi politik yang tidak karuan itu, mahasiswa Nahdliyin bertekad untuk memberikan sumbangsih dalam misi Persatuan Nasional.

Sehingga, pada Konferensi Besar IPNU tanggal 14-17 Maret 1960 di Kaliurang Yogyakarta, menghasilkan kesepakatan untuk berdirinya organisasi kemahasiswaan Nahdliyin. Sebagai tindaklanjutnya, dibentuklah panitia sponsor berdirinya organisasi mahasiswa nahdliyin yang berjumlah 14 orang mahasiswa Nahdliyin dari berbagai daerah. Selanjutnya, ke-empat belas mahasiswa tersebut mengadakan pertemuan yang diselenggarakan pada tanggal 14-16 April 1960 di Gedung Madrasah Muallimin Nahdlotul Ulama (Gedung Yayasan Khodijah) Wonokromo Surabaya.

Adapun 14 mahasiswa yang tergabung dalam panitia sponsor berdirinya organisasi mahasiswa Nahdliyin atau yang dikenal sebagai 14 tokoh pendiri PMII tersebut antara lain yaitu:

1. Abddullah Alwi Moertadho (Jakarta)

2. Chalid Mawardi (Jakarta)

3. M. Said Budairy (Jakarta)

4. M. Sobich Ubaid (Jakarta)

5. Makmun Syukri (Bandung)

6. Hilman Badrudinsyah (Bandung)

7. H. Ismail Makky (Yogyakarta)

8. Moenshif Nachrowi (Yogyakarta)

9. Nuril Huda Suaiby (Surakarta)

Baca Juga:  Baijuri Pascapelantikan: Ajaran Juang Kami adalah Pendidikan Kiai Hasyim Asy’ary

10. Laily Mansur (Surakarta)

11. Abdullah Wahab Jaelani (Semarang)

12. Hisbullah Huda (Surabaya)

13. M. Chalid Narbuko (Malang)

14. Ahmad Hussein (Makassar)

Dalam pertemuan yang diadakan di Surabaya tersebut mendapatkan beberapa hasil yang kemudian diumumkan di Balai Pemuda pada tanggal 17 April 1960/ 21 Syawal 1379 H yang hingga kini diperingati sebagai hari lahir (harlah) PMII. Hasil-hasil yang dimaksud antaranya: nama organisasi kemahasiswaan Nahdliyin yang dibentuk adalah Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) yang akan berpusat di Jakarta dengan ketua umum Mahbub Junaidi. Sampai disini tentu menimbulkan banyak pertanyaan terkait pemilihan ketua umum PMII yang diambil dari luar 14 tokoh pendiri.

Berdasarkan penyampaian dari KH. Moenshif Nachrawi (salah satu pendiri PMII) yang penulis temui dikediamannya (Jl. Bungkuk Singosari Malang), sekurang-kurangnya ada 4 alasan dipilihnya Mahbub Junaidi sebagai Ketua Umum PMII, yaitu:

1. Nasab
Mahbub Junaidi merupakan putra dari Kyai Moehammad Djoenaidi, seorang tokoh NU Betawi (Jakarta) yang memiliki kiprah besar dalam perjalanan NU. Kyai Junaidi juga merupakan Panitera Pengganti Mahkamah Islam Tinggi (MIT) sekaligus pimpinan bagian B (Hukum) Kementerian Agama tahun 1945-1946 yang berpusat di Surakarta (Solo) akibat adanya agresi militer Belanda di Jakarta. Selain itu, pada pemilu 1955 Kyai Djoenaidi terpilih menjadi anggota DPR-RI mewakili daerah pemilihan Djakarta Raya.

2. Karakter atau kepribadiannya
Mahbub Junaidi merupakan pemuda kharismatik yang mudah bergaul dengan siapapun, dari tukang becak hingga Menteri sekalipun. Hal ini bukan tanpa alasan, beliau memiliki kemampuan berfikir dan komunikasi yang luar biasa yang dibalut dengan humor-humor yang menyenangkan. Berceritanya pintar, enak, bermutu dan lucu. Pernah suatu Ketika KH. Moenshif Nachrawi bermalam dikediaman Mahbub muda -dikediaman H. Junaidi yang kebetulan Mahbub sebagai putra sulung tinggal sendiri dipavilium. Kyai Moenshif sempat dibuat kaget dengan seluruh penjuru rumah Mahbub yang full terisi dengan berbagai macam tumpukan buku. Pada dini hari, ketika Kyai Moenshif terbangun karena hendak ke toilet dan melewati ruang tamu, Kyai mendapati beliau (Mahbub Junaidi) masih terjaga dengan bukunya. Tentu dari cerita ini menjadi wajar Mahbub Junaidi dikenal dengan wawasan dan pengetahuan yang begitu luas.

Baca Juga:  Pemuda Luncurkan Kajian Pernikahan di TPQ Al-Barokah

3. Pemimpin Redaksi Harian Koran Duta Masyarakat (dikenal sebagai Sahabat Pena)
Koran Duta Masyarakat merupakan surat kabar kepunyaan NU yang secara massif memuat pemberitaan tentang nilai-nilai kemasyarakatan serta informasi-informasi lainnya. Melalui surat kabar Duta Masyarakat yang dikelolanya, Mahbub tak jarang menyampaikan kritik dan saran kepada pemerintah. Tajuk-tajuk yang dibuat oleh Mahbub selalu tajam ketika menyerang Presiden dan Menteri-menterinya. Namun, tidak satupun yang diserang oleh Mahbub melalui tulisannya merasa dicemarkan nama baiknya sebab Mahbub selalu membalut tulisannya dengan humor-humor dan satire. Hal tersebut menunjukkan kelihaian Mahbub dalam menulis sehingga dari kelihaiannya itu beliau dikenal sebagai Seniman Politik dan Pendekar Pena. Selain itu, keberaniannya menyuarakan kebenaran dan membela kepentingan wong cilik tidak perlu diragukan. Mahbub banyak menulis tentang pembelaan dan perhatian kepada kaum miskin, sampai-sampai ia dijuluki burung parkit dari kandang macan.

Hal ini juga berkaitan dengan proses dipilihnya Mahbub Junaidi menjadi ketua PMII pada pertemuan di Surabaya waktu itu. Setelah disepakati bahwa PMII akan berpusat di Jakarta, forumpun memberikan kesempatan kepada 4 tokoh mahasiswa yang berasal dari Jakarta untuk berembuk menentukan ketuanya, boleh dari salah satu tokoh yang empat atau lainnya. Dimana hal tersebut disesuaikan dengan penempatan pusat PMII supaya nantinya memudahkan mobilitas ketua dalam menjalankan roda organisasi. Dari hasil diskusi ke-empat tokoh dari Jakarta itu muncullah nama Mahbub Junaidi yang langsung disepakati oleh 10 mahasiwa Nahdliyin dari berbagai daerah yang lain. Pada proses aklamasi ini menunjukkan bahwa semuanya mengenal dan tahu prestasi seorang Mahbub Junaidi. Bagaimana tidak, 14 mahasiswa Nahdliyin tersebut tentu seringkali membaca koran NU (Duta Masyarakat) yang pastinya selalu ada tulisan Mahbub disitu.

Baca Juga:  Jokowi Bakal Hadiri Puncak Harlah PMII di Solo

4. Pengalamannya
Mahbub Junaidi pernah menjadi Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Sehingga, melalui pengalamannya dalam memanajemen organisasi itu diharapkan Mahbub dapat membawa PMII menjadi organisasi mahasiswa yang berkembang secara massif. Pertanyaan selanjutnya, bukankah tindakan ini merupakan bentuk penghianatan terhadap organisasi? Jawabannya TIDAK. Pada saat itu organisasi islam yang ada hanyalah HMI, sehingga wajar apabila mahasiswa islam apapun baik NU, Muhammaddiyah, dan lainnya berproses di HMI. Kyai Moenshif membahasakannya sebagai kos-kosan, “Mahbub itu ya nge-kos di HMI karena rumahnya belum jadi, rumahnya sudah jadi ya pulang”.

Dari empat alasan yang diungkap tersebut, diharapkan dapat membawa PMII menjadi organisasi yang besar dalam prosesi kaderisasi mahasiswa-mahasiswa Nahdliyin dan tentu menjadikan PMII bermanfaat pada masyarakat secara luas dengan komitmen kebangsaan dan keberagaman. Benar saja, PMII pada hari ini telah mampu menjadi organisasi mahasiswa terbesar di Indonesia yang melahirkan banyak tokoh hebat dan berdedikasi dalam perjalanan Kemerdekaan Indonesia baik pada ruang gagasan intelektual ataupun aksi-aksi jalanan dengan mengangkat isu-isu kerakyatan secara konsisten. Sebagai kader PMII kita patut berterimakasih dan bangga pada beliau Mahbub Junaidi (Ketua PB PMII Pertama) dan kepada 14 tokoh pendiri PMII yang dengan pemikiran serta baktinya membawa kita pada organisasi PMII yang sarat terhadap perjuangan membela kaum mustadh’afin, dengan pola pengkaderan yang terintegrasi secara massif-progressif.

Penulis: Isna Asyaroh I Editor: Ifta

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button

Adblock Detected

Mohon Matikan AdBlock di Browser Anda