AkademikaOpini

Membangun Perilaku Sadar Sampah sebagai Solusi Terhadap Permasalahan Sampah di Kota

Dengan meningkatnya jumlah penduduk dan perubahan standar hidup yang tinggi, konsumsi energi dan barang juga meningkat, mengakibatkan peningkatan produksi sampah. Sampah di kota, yang dihasilkan di seluruh dunia, diperkirakan akan mencapai 3,4 miliar ton, dan angka ini diperkirakan akan terus meningkat pada tahun 2030.

Sayangnya, peningkatan jumlah sampah ini tidak diimbangi dengan upaya pencegahan yang memadai. Pengelolaan sampah di perkotaan masih menjadi prioritas yang rendah, terutama bila dibandingkan dengan pengembangan sektor infrastruktur dan transportasi. Hal ini tampak jelas di beberapa kota besar di Indonesia, seperti DKI Jakarta, Depok, Bekasi, dan sekitarnya.

Berbagai metode pengelolaan sampah, jika tidak dilaksanakan dengan baik, dapat menimbulkan berbagai masalah lingkungan. Setiap metode pengelolaan sampah menghasilkan emisi zat yang berbeda, termasuk elemen lingkungan yang berbeda selama proses transportasi dan paparan zat tersebut.

Contoh dari dampak buruk ini adalah sampah organik yang dikelola dengan metode landfill (controlled landfill dan sanitary landfill). Sampah ini mudah terdekomposisi atau mengalami pembusukan, menghasilkan gas seperti metana, karbon dioksida, dan nitrogen yang bersifat asfiksia. Selain itu, gas seperti amonia dan hydrogen sulfida, yang bersifat iritan, juga dilepaskan selama proses pembusukan ini, mengganggu kenyamanan masyarakat sekitar.

Sistem pengelolaan sampah yang kurang efektif, seperti open dumping dan landfill dengan pengelolaan yang buruk, dapat mencemari lingkungan. Air hujan atau air lain yang masuk ke tumpukan sampah akan melarutkan materi biologis hasil dekomposisi dan logam berat yang ikut tertimbun, menyebabkan pencemaran air tanah dan air sungai.

Dampak kesehatan masyarakat juga tidak bisa diabaikan. Paparan limbah beracun dapat menyebabkan penyakit kardiovaskular, gangguan pernafasan, kanker, dan ancaman terhadap kesehatan mental. Anemia, kerusakan ginjal, dan gangguan kesuburan juga dapat terjadi akibat paparan kronis terhadap logam berat dari sampah.

Baca Juga:  Pemuda Luncurkan Kajian Pernikahan di TPQ Al-Barokah

Penting untuk diingat bahwa metode pengelolaan sampah di tempat pembuangan akhir (TPA) tidak sepenuhnya bebas dari dampak lingkungan dan kesehatan. Oleh karena itu, penting untuk mencari solusi yang lebih holistik dan berkelanjutan.

Membangun Perilaku Sadar Sampah untuk Meningkatkan Nilai Ekonomis

Perilaku manusia terhadap lingkungan dapat dibagi menjadi dua, yaitu perilaku ekosentrik dan antroposentrik. Individu dengan sikap ekosentrik melihat perlindungan terhadap lingkungan sebagai tujuan pada dirinya sendiri, sedangkan individu antroposentrik melihatnya sebagai alat untuk kepentingan manusia.

Perubahan perilaku manusia terhadap sampah memerlukan pemahaman nilai ekologis dan ekonomis. Nilai ekologis berkaitan dengan keberlanjutan ekosistem dan menjaga lingkungan, sedangkan nilai ekonomis mencakup pemanfaatan limbah sebagai sumber nilai tambah.

Dalam konteks ini, diperlukan pendekatan yang holistik dan berkelanjutan untuk mengubah perilaku manusia terhadap sampah. Hal ini mencakup pemahaman bahwa sampah bukan hanya masalah lingkungan, tetapi juga memiliki potensi ekonomis.

Perilaku ekologis, seperti mendukung kebersihan lingkungan, dapat diukur melalui partisipasi dalam aktivitas-aktivitas yang mendukung nilai ekologis. Contohnya, mendorong keluarga dan tetangga untuk menjaga kebersihan dan kesehatan lingkungan.

Pada sisi ekonomi, perilaku positif termasuk membeli produk yang dapat diisi ulang dan menggunakan kembali botol plastik. Kesadaran akan nilai ekonomi sampah dapat mendorong masyarakat untuk memanfaatkannya secara lebih efisien.

Penting untuk menyadari bahwa membangun perilaku sadar sampah tidak hanya tentang edukasi, tetapi juga tentang menciptakan kondisi yang mendukung perubahan perilaku. Pembinaan dan pelatihan menjadi penting untuk memberikan pemahaman baru tentang sampah dari perspektif ekologis dan ekonomis.

Baca Juga:  Benarkah Hilirisasi Jawaban Terbaik untuk Industrilisasi dan Pertumbuhan Ekonomi Indonesia?

Hasil dari kegiatan pembinaan menunjukkan bahwa masyarakat menjadi lebih aware terhadap potensi dan peluang usaha dalam pengelolaan sampah. Pelatihan ini juga memberikan kemampuan untuk mengidentifikasi pemanfaatan sampah yang berorientasi ekologis dan ekonomis.

Meskipun upaya penanganan sampah di tempat pembuangan akhir (TPA) tetap penting, fokus utama haruslah pada upaya pencegahan dan perubahan perilaku di hulu. Dengan terus melakukan upaya di hulu, dampak negatif sampah terhadap lingkungan dan kesehatan masyarakat dapat segera teratasi.

Pengantar:

Pengelolaan sampah merupakan permasalahan kompleks yang melibatkan banyak faktor, termasuk regulasi dan dampaknya pada lingkungan dan kesehatan masyarakat. Saat ini, terdapat kecenderungan untuk menangani sampah di hilir, sementara upaya pencegahan dan perubahan perilaku di hulu kurang mendapat perhatian.

Permasalahan Regulasi:

  1. Ketidakpastian Regulasi:
    • Tidak adanya regulasi yang jelas dan tegas menciptakan kebingungan di kalangan masyarakat dan industri.
    • Keterbatasan regulasi memberikan celah bagi perilaku tidak bertanggung jawab terhadap sampah.
  2. Ketidakefektifan Penegakan Hukum:
    • Regulasi yang ada mungkin tidak cukup efektif tanpa penegakan hukum yang memadai.
    • Keterbatasan sumber daya dan kesadaran hukum dapat menyebabkan kurangnya kepatuhan.
  3. Fokus Penanganan di Hilir:
    • Kurangnya kesadaran akan pentingnya penanganan sampah di hulu.
    • Sulitnya merubah perilaku di hulu memerlukan upaya edukasi yang intensif dan kesadaran masyarakat yang tinggi.

Dampak Perilaku Sampah:

  1. Dampak Lingkungan yang Merugikan:
    • Pembuangan ilegal, penggunaan plastik sekali pakai, dan kurangnya pemilahan sampah dapat menyebabkan pencemaran lingkungan.
    • Ancaman terhadap ekosistem dan keberlanjutan lingkungan.
  2. Ancaman Kesehatan Masyarakat:
    • Sampah yang tidak dikelola dengan baik dapat menjadi sumber penyakit.
    • Limbah beracun dapat mencemari air dan udara, membahayakan kesehatan manusia.
Baca Juga:  Kejaksaan Agung Tak Ajukan Banding Terhadap Putusan Eliezer

Mengapa Penanganan di Hilir Lebih Diutamakan:

  1. Tanggapan Cepat terhadap Dampak:
    • Penanganan di hilir memberikan tanggapan cepat terhadap dampak yang terlihat oleh masyarakat.
    • Pembangunan tempat pembuangan akhir dianggap sebagai solusi yang lebih mudah dan cepat.
  2. Keterbatasan Sumber Daya di Hulu:
    • Upaya penanganan di hulu memerlukan investasi sumber daya yang signifikan untuk edukasi, kesadaran, dan infrastruktur pengelolaan sampah.

Solusi Holistik:

  1. Perubahan Regulasi yang Komprehensif:
    • Pengembangan regulasi yang mencakup penanganan di hulu dan di hilir.
    • Regulasi yang jelas dan tegas harus didukung oleh penegakan hukum yang efektif.
  2. Peningkatan Kesadaran Masyarakat:
    • Upaya besar-besaran untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pengurangan sampah di hulu.
    • Edukasi dan kampanye sadar lingkungan perlu diperkuat.
  3. Keterlibatan Pemerintah dan Industri:
    • Kerjasama antara pemerintah dan industri dalam menciptakan kebijakan dan praktik bisnis yang mendukung pengelolaan sampah yang berkelanjutan.

Kesimpulan:

Meskipun penanganan sampah di tempat pembuangan akhir tetap penting, solusi holistik memerlukan pendekatan yang mencakup penanganan di hulu dan di hilir. Regulasi yang komprehensif, penegakan hukum yang efektif, dan kesadaran masyarakat yang tinggi adalah kunci untuk menciptakan perubahan positif dalam pengelolaan sampah secara menyeluruh. Membangun perilaku sadar sampah dan fokus pada pencegahan dapat menjadi langkah awal yang signifikan menuju penanganan sampah yang berkelanjutan.

Penulis: Khairul Anwar, S.KM., M.KM

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button

Adblock Detected

Mohon Matikan AdBlock di Browser Anda