Lamongan, Deras.Id – Pemerintah Kabupaten Lamongan melalui Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan mendorong transformasi budidaya padi melalui inovasi SIMAS AGRO (Sistem Manajemen Tanaman Sehat Berbasis Agro Teknologi). Inovasi tersebut dikembangkan untuk meningkatkan produktivitas padi sekaligus menekan biaya produksi, menjaga kelestarian lingkungan, dan menghasilkan beras sehat berkualitas yang memiliki daya saing di pasar premium.
Kabupaten Lamongan sebagai salah satu sentra produksi padi menghadapi tantangan dalam menjaga keberlanjutan sektor pertanian. Praktik budidaya konvensional yang masih bergantung pada pupuk anorganik dan pestisida kimia berlebihan berpotensi menurunkan kualitas tanah, mengganggu keseimbangan ekosistem, serta meningkatkan biaya usaha tani.
Di sisi lain, permintaan masyarakat, khususnya pasar perkotaan dan kelompok konsumen menengah ke atas, terus berkembang terhadap beras yang sehat, berkualitas, dan minim residu bahan kimia. Kondisi tersebut mendorong perlunya perubahan sistem budidaya yang tidak hanya berorientasi pada kuantitas produksi, tetapi juga kualitas dan keberlanjutan.
Melalui SIMAS AGRO, pengelolaan tanaman dilakukan secara terpadu dengan menyesuaikan kondisi agroekologi dan potensi lokal. Sistem ini mengombinasikan pengurangan penggunaan pupuk sintetis, Pengelolaan Hama Terpadu (PHT), penggunaan varietas unggul tahan hama, sistem tanam Jajar Legowo, serta modernisasi pengolahan pascapanen.
Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan Kabupaten Lamongan menjelaskan bahwa pendekatan tersebut diarahkan untuk mengubah pola pikir petani dari ketergantungan terhadap input kimia menuju pengelolaan tanaman yang lebih sehat dan efisien.
“SIMAS AGRO bukan sekadar inovasi budidaya, tetapi merupakan pendekatan dari hulu hingga hilir untuk menghasilkan padi yang produktif, efisien, sehat, dan memiliki nilai tambah bagi petani,” ujarnya.
Pada tahap awal, SIMAS AGRO dikembangkan melalui kawasan percontohan seluas 225 hektare yang tersebar di 15 kecamatan. Desa Besur, Kecamatan Sekaran, ditetapkan sebagai kawasan inti atau Center of Excellence. Pelaksanaan inovasi juga diperkuat melalui pendampingan teknis bersama UPT Proteksi Tanaman Pangan dan Hortikultura Jawa Timur.
Di tingkat budidaya, petani mendapatkan penerapan paket teknologi PHT, pemetaan unsur hara tanah untuk menentukan pemupukan berimbang, penggunaan Jajar Legowo, pemilihan varietas yang adaptif terhadap kondisi lokal, serta pengelolaan tata air secara lebih teratur. Pendekatan tersebut diharapkan mampu mengurangi penggunaan pupuk dan pestisida kimia tanpa mengurangi produktivitas tanaman.
Inovasi juga menyentuh tahap pascapanen. Pengolahan dilakukan dengan teknologi penggilingan terpadu, mulai dari pemecahan kulit, penyosohan, pemolesan hingga pengeringan dengan kadar air maksimal 14 persen. Standardisasi tersebut ditujukan untuk menghasilkan beras yang berkualitas, bebas dari campuran dedak atau bekatul, serta memenuhi tuntutan pasar sehat.
Selain aspek teknologi, SIMAS AGRO mengintegrasikan kearifan lokal masyarakat tani Lamongan dalam pengelolaan lahan. Pendekatan berbasis kondisi spesifik lokasi menjadi salah satu unsur kebaruan karena membantu petani menentukan strategi budidaya secara lebih tepat, termasuk waktu tanam, pemupukan, pengendalian hama, hingga pengelolaan pascapanen.
Pemerintah daerah menargetkan penerapan SIMAS AGRO mampu meningkatkan produktivitas padi hingga lebih dari 7,5 ton per hektare, sekaligus meningkatkan efisiensi biaya usaha tani. Beras sehat yang dihasilkan diharapkan mempunyai nilai jual lebih tinggi sehingga memberikan dampak langsung terhadap peningkatan pendapatan dan kesejahteraan petani.
Ke depan, program akan diperkuat melalui pembentukan fasilitator Tani Sehat, penguatan kelembagaan kelompok tani, integrasi program ke dalam perencanaan pembangunan daerah, serta pengembangan kemitraan pemasaran dengan off-taker dan pasar modern.
Dengan pendekatan tersebut, SIMAS AGRO diharapkan menjadi model pengembangan pertanian berkelanjutan di Lamongan yang mampu menjaga produktivitas sebagai lumbung pangan sekaligus menjawab tuntutan konsumen terhadap pangan sehat dan berkualitas. Inovasi ini juga menjadi bagian dari upaya menjaga keseimbangan antara peningkatan produksi, kesejahteraan petani, kesehatan konsumen, dan kelestarian ekosistem pertanian.
Penulis: AW












