BeritaDaerah

SI RISDA CANTIK Perkuat Ekosistem Riset dan Inovasi, Dorong Kebijakan Berbasis Data di Lamongan

Lamongan, Deras.Id – Pemerintah Kabupaten Lamongan terus memperkuat ekosistem riset dan inovasi daerah melalui digitalisasi pengelolaan data, hasil kajian, serta dokumentasi inovasi. Salah satu langkah yang dikembangkan adalah SI RISDA CANTIK, platform digital terintegrasi yang menjadi pusat informasi riset, publikasi inovasi, informasi publik, serta bank data pedoman dan petunjuk teknis daerah.
Pengembangan SI RISDA CANTIK dilatarbelakangi masih terbatasnya perkembangan inovasi daerah. Data menunjukkan pada 2021 Kabupaten Lamongan melaporkan 48 inovasi dalam Innovative Government Award (IGA) dengan nilai 49,4. Pada 2022 jumlah inovasi hanya bertambah satu menjadi 49 inovasi dengan nilai 58,56. Sementara pada 2023 jumlah inovasi meningkat menjadi 79, tetapi nilai indeks inovasi justru turun menjadi 56,55.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa peningkatan kuantitas inovasi perlu diikuti dengan penguatan kualitas dokumentasi, pengelolaan, pemanfaatan, dan replikasi inovasi. Di sisi lain, dokumen hasil penelitian, kajian kebijakan, serta rekam jejak inovasi dari berbagai organisasi perangkat daerah (OPD) maupun masyarakat sebelumnya masih tersebar di masing-masing instansi.
Situasi itu berpotensi menimbulkan tumpang tindih tema kajian, menyulitkan pencarian referensi, menghambat replikasi inovasi, serta membatasi pemanfaatan hasil riset sebagai dasar pengambilan keputusan strategis.
Melalui SIRISDA CANTIK, pengelolaan riset dan inovasi diarahkan menjadi lebih terintegrasi dalam satu ekosistem digital. Platform ini menggabungkan manajemen riset, publikasi berita inovasi, informasi publik, serta bank data pedoman dan petunjuk teknis daerah.
Kepala Bapperida Kabupaten Lamongan dalam pengembangan inovasi tersebut menekankan pentingnya pengelolaan pengetahuan daerah secara sistematis agar hasil riset dan inovasi tidak berhenti sebagai dokumen, tetapi dapat dimanfaatkan untuk mendukung pembangunan.
“SIRISDA CANTIK diharapkan menjadi ruang bersama untuk mendokumentasikan, mengakses, dan memanfaatkan hasil riset maupun inovasi sehingga dapat mendukung perencanaan pembangunan yang lebih tepat sasaran dan berbasis bukti,” ujarnya.
Sistem tersebut memiliki empat tahapan utama. Pertama, input, yakni OPD maupun masyarakat melakukan pendaftaran dan mengunggah usulan riset, hasil kajian, atau dokumentasi inovasi. Kedua, verifikasi, yaitu admin atau verifikator melakukan pemeriksaan terhadap dokumen dan informasi yang disampaikan.
Ketiga, publikasi, yakni informasi yang telah diverifikasi ditampilkan melalui menu berita, informasi publik, maupun petunjuk teknis sehingga dapat diakses pemangku kepentingan. Keempat, pemanfaatan atau hilirisasi, yaitu hasil riset dan inovasi digunakan sebagai referensi penyusunan kebijakan serta mendorong replikasi inovasi.
SI RISDA CANTIK juga menjadi sarana untuk memperkuat kolaborasi pentahelix dengan membuka ruang bagi pemerintah, akademisi, praktisi, peneliti, dan masyarakat untuk berkontribusi dalam pengembangan pengetahuan dan inovasi daerah.
Bagi pemerintah daerah, platform ini memudahkan pemetaan inovasi, mempercepat koordinasi, serta membantu mengurangi potensi duplikasi program maupun anggaran penelitian. Bagi akademisi dan peneliti, SIRISDA CANTIK menyediakan media diseminasi agar hasil kajian dapat diketahui dan dimanfaatkan dalam pembangunan daerah.
Sementara bagi masyarakat, keberadaan platform tersebut memberikan akses lebih mudah terhadap informasi pembangunan, inovasi lokal, serta berbagai dokumen teknis pemerintahan.
Output inovasi ini berupa tersedianya platform lamongankab.risda.online, terdokumentasikannya berbagai publikasi dan dokumen secara terstruktur, serta tersedianya sistem akun terverifikasi bagi OPD dan inovator lokal.
Dalam jangka panjang, SIRISDA CANTIK diharapkan mampu meningkatkan pemenuhan indikator Indeks Inovasi Daerah (IID), memperkuat efisiensi birokrasi melalui digitalisasi dokumen, mempermudah replikasi inovasi, serta memperkuat penerapan evidence-based policy-making.
Dengan demikian, inovasi tidak hanya diukur dari banyaknya program yang dihasilkan, tetapi juga dari sejauh mana pengetahuan, riset, dan inovasi tersebut dapat digunakan untuk menjawab kebutuhan masyarakat serta mempercepat pembangunan Kabupaten Lamongan.

Penulis: AW

Show More
Dapatkan berita terupdate dari Deras ID di:

Berita Terkait

Back to top button

Adblock Detected

Mohon Matikan AdBlock di Browser Anda, Untuk Menikmati Konten Kami