Opini

Politik Jember Menuju Pilkada 2024

Oleh Ach Fajri Masyhuda S.sos*

“Kemanusiaan Jauh Lebih Penting dari pada Politik”

Abdurahman Wahid

Pernyataan “Kemanusiaan jauh lebih penting dari pada politik” menekankan bahwa nilai-nilai kemanusiaan, seperti kasih sayang, solidaritas, dan kepedulian terhadap sesama, seharusnya menjadi prioritas utama di atas kepentingan politik. Seperti nilai universal, hak asasi manusia, kesejahteraan Bersama, mengatasi krisis global, membangun kehidupan yang harmonis, menghindari eksploitasi, dan tanggung jawab moral.

Dalam konteks ini, politik seharusnya menjadi alat untuk memperjuangkan nilai-nilai kemanusiaan, bukan sebaliknya. Politik yang baik adalah politik yang berakar pada nilai-nilai kemanusiaan, berkomitmen untuk melindungi dan meningkatkan kualitas hidup semua orang, serta memastikan bahwa setiap kebijakan dan keputusan yang diambil didasarkan pada prinsip-prinsip kemanusiaan yang mendalam.

Pilkada 2024 di Jember pastinya akan menjadi sorotan penting bagi politik lokal. Calon-calon yang mungkin akan muncul, isu-isu yang berkembang, dan dinamika politik yang terjadi akan menjadi perhatian utama masyarakat setempat.

Accurate Research And Consulting Indonesia (ARCI). Merilis survei elektabiltas Pilkada Jember 2024 di bulan Mei kemaren, yang mana simulasi tuju nama, Mohammad Fawaid unggul di angka 36,2%. Kemudian ada petahana Hendy Siswanto 30,7%, selanjutnya mantan bupati jember Dr. Faida di angka 10.1% dan wakil Bupati sekarang KH. Firjaun Barlaman.

Nama mantan cabub 2020 Abdus salam diangka 5,4% disusul nama mantan birokrat H. Nanang Handoyo di angka 4,3% dan salah satu tokoh agama Gus Jaddin di angka 0,9%. Ini menandakan bahwa masyarakat menganggap mereka sebagai figur yang potensial untuk memimpin daerah tersebut. Dengan elektabilitas tinggi mereka, persaingan dalam Pilkada Jember akan semakin menarik untuk diikuti.

Komisi Pemilihan Umum (KPU) kabupaten menginformasikan mengenai hanya ada satu pasangan calon bupati (Cabup) dan calon wakil bupati (Cawabub) yang resmi mendaftar di Kabupaten Jember, yaitu Gus Jaddin dan Arismaya, mencerminkan beberapa aspek penting dalam proses pemilihan dan politik daerah

Kehadiran calon perseorangan atau independen dalam Pilkada Jember tentu akan menambah dinamika dalam kontes politik. Mereka bisa menjadi alternatif bagi pemilih yang ingin melihat pilihan di luar kandidat dari partai politik. Namun, tantangan bagi calon independen biasanya adalah memenuhi persyaratan administratif dan mendapatkan dukungan yang cukup dari masyarakat.

Baca Juga:  Mengenal Profesi Pendamping Masyarakat Desa, Refleksi: Tantangan & Harapan (2)

Keseluruhan situasi ini menunjukkan betapa pentingnya peran KPU dalam memastikan bahwa proses pemilihan berjalan dengan lancar, adil, dan transparan, serta pentingnya partisipasi aktif masyarakat dalam proses demokrasi.

Tentu, pemberian dukungan dari partai politik bisa menjadi faktor penentu dalam perjalanan politik para calon bupati. Proses seleksi dan penentuan siapa yang akan diberikan “karpet merah” akan menjadi fokus perhatian, karena itu bisa menentukan kemampuan calon untuk memperoleh dukungan dan sumber daya yang diperlukan dalam kampanye.

Dalam kajian politik, ada anggapan bahwa realitas dan konfigurasi politik dapat diprediksi meskipun sering kali mengandung unsur misteri. Pendekatan ini didasari oleh berbagai faktor seperti data historis, analisis tren, dan pemahaman mendalam tentang dinamika kekuasaan dan perilaku aktor politik. Namun, prediksi ini tidak selalu akurat karena politik dipengaruhi oleh berbagai variabel yang bisa berubah dengan cepat dan tidak terduga.

Meskipun prediksi politik bisa menjadi alat yang berguna, penting untuk selalu mempertimbangkan bahwa politik adalah bidang yang dinamis dan penuh dengan ketidakpastian. Unsur misteri dalam politik menandakan bahwa ada batasan dalam kemampuan kita untuk memprediksi setiap perkembangan dengan presisi tinggi.

Para pesohor politik yang memiliki track record, reputasi, dan rekam jejak yang mumpuni memang sering kali dianggap sebagai calon kuat untuk memimpin suatu daerah. Di Jember, terdapat beberapa tokoh yang disebut-sebut sebagai kandidat potensial untuk memimpin dalam lima tahun ke depan.

Kontestasi Pilkada 2024 di Jember menunjukkan dinamika politik yang mulai dinamis, dengan beberapa partai politik (parpol) sudah mulai mengambil langkah-langkah untuk menentukan figur yang akan diusung. Meskipun poros koalisi baru belum sepenuhnya terbentuk, terdapat indikasi kuat bahwa sejumlah parpol telah melakukan pertemuan dan konsolidasi untuk membentuk aliansi yang disebut Koalisi Jember Bersatu (KJB). Seperti partai PKB, Golkar, PPP, Nasdem dan PKS.

Baca Juga:  Puluhan Pedagang Kaki Lima Nyumbang Ratusan Nasi Bungkus untuk Mas Rio Daftar Bupati Situbondo di PPP

Koalisi Jember Bersatu (KJB) berpotensi menjadi kekuatan signifikan dalam Pilkada 2024 di Jember. Dengan parpol-parpol yang sudah mulai mengadakan pertemuan dan konsolidasi, koalisi ini dapat mengusung kandidat yang memiliki rekam jejak dan visi yang jelas untuk pembangunan Jember. Figur-figur yang disebutkan di atas menunjukkan beragam latar belakang dan pengalaman, yang bisa saling melengkapi untuk membentuk tim kepemimpinan yang kuat dan efektif. Koalisi dan kandidat ini diharapkan mampu menjawab tantangan dan kebutuhan masyarakat Jember di masa mendatang.

Menang di pemilu legislatif 2024 partai Gerindra menetapkan Gus Fawait sebagai calon tunggal dari Partai Gerindra dengan istilah “Golden Tiket” menunjukkan bahwa partai tersebut memberikan dukungan penuh kepada satu kandidat tertentu untuk maju dalam pemilihan. Ini menimbulkan beberapa implikasi penting terkait proses politik dan pemilihan di daerah tersebut.

Dipemilihan calon wakil bupati (cawabup), banyak pihak yang tertarik dan berusaha mendapatkan posisi tersebut untuk meningkatkan elektabilitas partainya atau memperkuat pengaruh politik mereka seperti Kamiludin kepala Desa Silo sekaligus ketua APDESI, ada pula mantan Rektor Universitas Islam Jember Abdul hadi sampai mantan wakil bupati 2016/2020 KH. Muqit Arief.

Selain individu-individu tersebut, ada juga ketua partai politik dan pengurus partai nya yang tentunya memiliki ambisi untuk merebut posisi cawabup. Mereka berusaha mengajukan kader terbaiknya untuk meningkatkan elektabilitas partai mereka. Kandidat dari partai politik biasanya memiliki dukungan struktural yang kuat dan akses ke sumber daya partai, yang bisa menjadi keunggulan dalam persaingan politik.

Persaingan untuk menjadi cawabup akan sangat ketat, dengan berbagai strategi dan manuver politik yang dilakukan oleh masing-masing kandidat dan partainya. Kandidat yang mampu menggalang dukungan luas dari berbagai kalangan masyarakat dan memiliki visi serta program kerja yang jelas biasanya memiliki peluang lebih besar untuk terpilih.

Baca Juga:  Integritas Penyelenggaraan Pemilu: Mempertahankan Dasar Demokrasi

Ada beberapa faktor yang membuat situasi di Jember menjadi lebih dinamis dan kompleks, antara lain:

  1. Kontestasi Politik yang Ketat

– Kandidat yang bersaing dalam pilkada kali ini berasal dari berbagai latar belakang, termasuk petahana, politisi dari partai besar, serta tokoh-tokoh independen yang memiliki basis massa kuat.

– Persaingan ketat ini menyebabkan intensitas kampanye meningkat, baik dalam bentuk kampanye langsung maupun melalui media sosial.

  1. Isu-isu Lokal

– Isu-isu yang menjadi perhatian utama warga Jember, seperti pembangunan infrastruktur, peningkatan kualitas pendidikan, dan pelayanan kesehatan, menjadi topik utama yang diangkat oleh para kandidat.

– Selain itu, masalah pertanian dan kesejahteraan petani juga menjadi fokus karena sektor ini merupakan salah satu sektor utama di Jember.

  1. Peran Media dan Sosial Media

– Media lokal dan nasional banyak memberitakan perkembangan terbaru seputar pilkada di Jember, memberikan informasi dan analisis mengenai kandidat dan program kerja mereka.

– Sosial media juga menjadi arena penting bagi kandidat untuk berinteraksi dengan pemilih dan menyampaikan visi misi mereka.

  1. Dukungan Partai Politik

– Dukungan dari partai politik besar menjadi salah satu faktor penentu dalam pilkada ini. Kandidat yang mendapatkan dukungan dari partai-partai besar memiliki peluang lebih besar dalam mendapatkan suara.

– Namun, tokoh-tokoh independen yang memiliki popularitas dan track record yang baik juga tidak bisa diabaikan.

  1. Partisipasi Masyarakat

– Kesadaran politik masyarakat Jember yang semakin tinggi terlihat dari partisipasi aktif mereka dalam berbagai tahapan pilkada, mulai dari pendaftaran pemilih hingga ikut serta dalam kampanye.

– Edukasi politik yang dilakukan oleh berbagai pihak juga berperan penting dalam meningkatkan partisipasi ini.

Dengan berbagai dinamika tersebut, pilkada di Kabupaten Jember diperkirakan akan menjadi salah satu kontestasi politik yang menarik untuk diikuti. Para kandidat diharapkan dapat bersaing secara sehat dan menjunjung tinggi prinsip demokrasi agar hasil yang dicapai dapat diterima oleh semua pihak dan membawa kemajuan bagi Kabupaten Jember.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

Adblock Detected

Mohon Matikan AdBlock di Browser Anda