Lamongan, Deras.Id – Puskesmas Payaman Kabupaten Lamongan menghadirkan inovasi SI-BERSIH (Sistem Informasi dan Pelayanan Bersama Sanitasi Lingkungan Bersih) untuk memperluas akses masyarakat terhadap layanan kesehatan lingkungan. Inovasi ini mentransformasi pelayanan Klinik Sanitasi yang sebelumnya lebih banyak dilakukan secara tatap muka menjadi layanan berbasis digital yang lebih mudah, cepat, dan fleksibel.
Inovasi tersebut dilatarbelakangi masih ditemukannya penyakit berbasis lingkungan dalam daftar penyakit dengan jumlah kasus tinggi di wilayah kerja Puskesmas Payaman. Data tahun 2022 menunjukkan ISPA tercatat sebanyak 3.804 kasus dan diare sebanyak 998 kasus. Kondisi tersebut menunjukkan masih perlunya penguatan edukasi, konsultasi, serta intervensi kesehatan lingkungan secara berkelanjutan.
Kepala Puskesmas Payaman melalui program SI-BERSIH berupaya menjawab tantangan keterbatasan jarak, waktu, transportasi, dan jumlah petugas kesehatan lingkungan. Masyarakat tidak lagi harus selalu datang langsung ke Puskesmas untuk memperoleh informasi atau berkonsultasi mengenai persoalan sanitasi.
SI-BERSIH dikembangkan dengan konsep one-stop digital service melalui satu tautan Linktree yang dapat diakses masyarakat dengan memindai QR Code pada banner, pamflet, maupun melalui media sosial Puskesmas Payaman.
Dalam platform tersebut tersedia lima layanan utama, yakni konsultasi langsung melalui WhatsApp dengan petugas kesehatan lingkungan, materi edukasi penyakit berbasis lingkungan dalam format PowerPoint, video edukasi interaktif, poster digital kesehatan lingkungan, serta contact center dan tautan media sosial resmi Puskesmas Payaman.
“Melalui SI-BERSIH, masyarakat dapat memperoleh edukasi dan konsultasi kesehatan lingkungan tanpa harus terkendala jarak dan waktu. Jika hasil konsultasi menunjukkan adanya risiko yang membutuhkan penanganan langsung, petugas akan melakukan tindak lanjut melalui kunjungan rumah,” demikian konsep pelayanan yang diterapkan Puskesmas Payaman.
Layanan konsultasi WhatsApp dilaksanakan pada hari kerja, Senin hingga Jumat pukul 08.00–11.00 WIB. Konsultasi yang membutuhkan pemeriksaan lapangan akan ditindaklanjuti dengan home visit berdasarkan kesepakatan jadwal antara petugas dan masyarakat.
Selain memberikan kemudahan bagi masyarakat, SI-BERSIH juga memperkuat fungsi petugas kesehatan lingkungan dalam melakukan pemetaan dan intervensi terhadap wilayah yang memiliki risiko sanitasi. Data konsultasi, jenis permasalahan, lokasi kasus, serta tindak lanjut pelayanan dikembangkan untuk dapat dipantau melalui dashboard digital secara lebih sistematis.
Aspek inklusivitas juga menjadi perhatian dalam pelaksanaan inovasi ini. Masyarakat lanjut usia atau warga yang belum terbiasa menggunakan teknologi digital dapat memperoleh bantuan dari keluarga, Bidan Desa, maupun kader kesehatan setempat. Dengan demikian, transformasi digital tidak menjadi hambatan bagi kelompok masyarakat yang memiliki keterbatasan akses teknologi.
Promosi SI-BERSIH dilakukan melalui edukasi petugas di poli, sosialisasi oleh staf Puskesmas, penyuluhan lintas program, serta penguatan jejaring dengan Bidan Desa. Evaluasi dilakukan setiap bulan melalui laporan kepada Kepala Puskesmas, meliputi akses Linktree, jumlah konsultasi, kondisi lingkungan, tindak lanjut kasus, serta kontribusinya terhadap Penilaian Kinerja Puskesmas (PKP) bidang Upaya Kesehatan Masyarakat (UKM).
Melalui inovasi ini, Puskesmas Payaman menargetkan meningkatnya pengetahuan dan kesadaran masyarakat mengenai sanitasi lingkungan, meningkatnya kemudahan akses pelayanan, serta penguatan upaya promotif dan preventif. Dalam jangka panjang, SI-BERSIH diharapkan berkontribusi terhadap penurunan penyakit berbasis lingkungan, khususnya ISPA dan diare, sekaligus meningkatkan kepuasan masyarakat terhadap pelayanan kesehatan lingkungan.
SI-BERSIH menegaskan bahwa pelayanan kesehatan lingkungan tidak harus selalu menunggu masyarakat datang ke fasilitas kesehatan. Dengan memanfaatkan teknologi digital dan tetap mengintegrasikannya dengan kunjungan lapangan, Puskesmas Payaman membangun pola pelayanan yang lebih proaktif, inklusif, responsif, dan berorientasi pada kebutuhan masyarakat.
Penulis: AW









