Lamongan, Deras.Id — SD Negeri 3 Geger menghadirkan inovasi pembelajaran SETIBA DI TEGAL (Selasa Tiga Bahasa dengan Literasi Digital) sebagai upaya meningkatkan kemampuan literasi multibahasa sekaligus kecakapan digital peserta didik. Program ini memadukan pembelajaran bahasa Inggris, bahasa Indonesia, dan bahasa Jawa dengan penguatan kemampuan menggunakan teknologi secara bijak, kritis, dan beretika.
Inovasi tersebut dilatarbelakangi masih ditemukannya tantangan dalam kemampuan literasi siswa. Hasil evaluasi dan observasi awal sekolah menunjukkan sekitar 60 persen siswa mengalami kesulitan memahami dan menggunakan kosakata dasar bahasa Inggris serta bahasa Jawa, baik ragam krama maupun ngoko. Selain itu, sekitar 70 persen siswa belum optimal dalam menggunakan teknologi informasi secara bijak dan mengevaluasi kebenaran informasi digital.
Kondisi tersebut mendorong SDN 3 Geger mengembangkan pendekatan pembelajaran yang tidak hanya berorientasi pada kemampuan berbahasa, tetapi juga relevan dengan perkembangan teknologi dan tetap mempertahankan identitas budaya lokal.
Kepala SDN 3 Geger menjelaskan, SETIBA DI TEGAL dirancang sebagai pembelajaran terpadu yang dilaksanakan secara terstruktur setiap hari Selasa. Melalui program tersebut, siswa memperoleh pengalaman belajar bahasa dalam konteks kehidupan sehari-hari sekaligus dikenalkan pada keterampilan literasi digital.
“Anak-anak tidak hanya belajar kosakata, tetapi juga belajar bagaimana menggunakan bahasa secara tepat, santun, dan sesuai konteks. Pada saat yang sama mereka dibekali kemampuan untuk bersikap kritis ketika menerima informasi dari dunia digital,” ujarnya.
Salah satu keunggulan program ini adalah model “3-in-1” yang mengintegrasikan bahasa Inggris sebagai bahasa global, bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional, dan bahasa Jawa sebagai identitas budaya lokal. Materi pembelajaran dikaitkan dengan tema yang dekat dengan kehidupan siswa, seperti pasar tradisional, kearifan lokal Lamongan, serta etika berkomunikasi.
Program juga memanfaatkan teknologi sederhana melalui “Papan Bahasa QR Code”. Siswa dapat memindai kode untuk mengakses materi audio-visual, termasuk pelafalan dan makna kosakata, tanpa harus bergantung pada perangkat teknologi yang kompleks.
Selain itu, terdapat kegiatan “Gelas Canting”, yakni storytelling menggunakan proyektor portabel dengan cerita bilingual maupun trilingual. Metode tersebut dirancang untuk menciptakan suasana belajar yang lebih menarik, interaktif, dan mendorong keberanian siswa dalam menggunakan bahasa.
Penguatan literasi digital dilakukan melalui praktik sederhana, antara lain mengenali informasi yang meragukan, melakukan verifikasi informasi, mengenali hoaks, serta memahami etika memberikan komentar di ruang digital.
Dari sisi guru, sekolah memberikan penguatan kapasitas melalui pelatihan pembuatan konten pembelajaran digital sederhana menggunakan Canva dan Google Sites. Sekolah juga menyusun bank kosakata tiga bahasa serta modul pembelajaran yang dilengkapi QR Code.
Evaluasi dilakukan melalui Buku Jurnal Literasi, kuis digital mingguan, serta pemantauan perkembangan kemampuan siswa. Sekolah juga membentuk Duta Literasi Digital sebagai bagian dari upaya membangun budaya literasi secara berkelanjutan.
Melalui inovasi tersebut, SDN 3 Geger menargetkan sedikitnya 50 kosakata baru dikuasai siswa setiap bulan. Dalam jangka lebih lanjut, 75 persen siswa diharapkan mampu menggunakan tiga bahasa dalam percakapan sederhana sehari-hari.
Program ini juga diharapkan meningkatkan kompetensi digital guru. Sekolah menargetkan 80 persen guru mampu membuat konten pembelajaran sederhana secara mandiri.
Dengan memadukan bahasa, budaya, dan teknologi, SETIBA DI TEGAL diharapkan mampu membangun ekosistem pendidikan yang literat, santun dalam menggunakan teknologi, serta tetap berakar pada kearifan lokal Jawa. Inovasi ini sekaligus menjadi langkah SDN 3 Geger dalam menyiapkan peserta didik menghadapi tuntutan era Society 5.0 tanpa meninggalkan identitas budaya daerah.
Penulis: AW









