Menjadi Direktur BUMN di Usia 34 Tahun, Ken Permana Berbagi Kunci Menembus Batas Karier
DERAS.ID — “Keberanian memulai, kemauan belajar, dan kesiapan menghadapi tantangan baru adalah modal utama untuk mencapai lompatan karier.”
Pesan itu disampaikan Ken Permana di hadapan puluhan alumni muda dan mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) dalam Professional Muda ITS Meet Up & Networking Event yang digelar IKA ITS Pengurus Wilayah Jakarta Raya di Wisma Pelatihan BNI Slipi, Jakarta, Sabtu (21/6/2026). Ken menyampaikannya dari pengalaman yang ia jalani sendiri hingga dipercaya menjadi Direktur Keuangan PT Indonesia Asahan Aluminium (INALUM) pada usia 34 tahun.
Alumni Teknik Mesin ITS kelahiran 1989 itu menjadi salah satu contoh bagaimana lulusan teknik dapat membangun karier hingga mencapai posisi strategis di luar jalur yang sering dianggap sebagai lintasan konvensional seorang insinyur. Pengalaman itulah yang kemudian menjadi perhatian utama dalam forum yang mempertemukan 50 alumni muda ITS, mahasiswa tingkat akhir, dan peserta Youth Leadership Camp (YLC)-8.
Dalam sesi bertajuk The Maverick’s Leap: Breaking the Linear Career Myth, Ken mengajak peserta melihat karier sebagai proses pembelajaran yang terus berkembang. Menurutnya, usia muda tidak boleh menjadi alasan untuk ragu mengambil tanggung jawab yang lebih besar.
Ia menceritakan bahwa setiap fase karier selalu menghadirkan tantangan baru yang menuntut keberanian untuk keluar dari zona nyaman. Kemampuan belajar cepat dan kesiapan menghadapi perubahan menjadi faktor penting yang menentukan langkah seseorang ketika memperoleh kesempatan yang lebih besar.
Kehadiran Ken dalam acara tersebut menjadi bagian dari upaya IKA ITS Jakarta Raya menghadirkan figur-figur alumni yang dapat memberikan gambaran nyata mengenai berbagai kemungkinan jalur karier yang dapat ditempuh lulusan teknik.

Ketua IKA ITS PW Jakarta Raya, Kusdi Widodo, mengatakan banyak alumni ITS yang saat ini berkiprah di sektor-sektor strategis nasional, mulai dari energi, keuangan, teknologi hingga kebijakan publik.
“ITS telah melahirkan banyak talenta unggul yang tidak hanya berkiprah di bidang engineering, tetapi juga memimpin transformasi di sektor keuangan, energi, teknologi, dan kebijakan publik. Melalui forum ini kami ingin menunjukkan bahwa masa depan tidak ditentukan oleh jurusan semata, melainkan oleh kemauan belajar, keberanian beradaptasi, dan kemampuan membangun jejaring yang kuat,” ujarnya.
Tema Where Engineering Meets Leadership & Finance yang diangkat dalam kegiatan ini memang dirancang untuk memperlihatkan bagaimana fondasi pendidikan teknik dapat menjadi bekal untuk memimpin organisasi dan perusahaan dalam berbagai sektor.

Selain Ken Permana, forum tersebut juga menghadirkan Munadi Herlambang, Direktur Human Capital & Compliance PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. Dalam paparannya, Munadi menekankan pentingnya kemampuan adaptasi bagi para profesional muda.
“Engineer harus mampu berbicara dalam bahasa bisnis agar ide teknis dapat dipahami. Fondasi penting, tetapi kemampuan adaptasi yang membuat karier bertahan,” ujarnya.
Munadi juga memperkenalkan konsep Unlearn, Relearn, and Own sebagai pendekatan pengembangan diri yang relevan bagi generasi muda. Menurutnya, integritas, karakter, dan kemampuan membangun relasi tetap menjadi faktor yang menentukan dalam perjalanan karier jangka panjang.
Perubahan kebutuhan dunia kerja yang semakin kompleks turut menjadi perhatian penyelenggara. Steering Committee YLC-8, Reynuh, menyebut organisasi saat ini membutuhkan talenta yang mampu menggabungkan kemampuan teknis, bisnis, dan kepemimpinan.
“Dunia kerja tidak lagi bergerak linear. Talenta yang mampu mengintegrasikan engineering mindset, business acumen, dan leadership capability akan menjadi pemenang di era transformasi digital,” katanya.
Menurutnya, kehadiran figur seperti Ken Permana dan Munadi Herlambang memberi referensi yang lebih dekat dan relevan bagi generasi muda. “Kami ingin peserta memperoleh role model yang relevan dan melihat bahwa lulusan teknik dapat menjadi pemimpin korporasi tanpa kehilangan fondasi keilmuannya,” ujarnya.
Antusiasme peserta terlihat sepanjang acara. Fawaz, salah satu peserta, mengaku memperoleh perspektif baru setelah mendengar langsung pengalaman kedua narasumber.
“Tema ini langsung menarik perhatian saya karena relevan dengan perjalanan saya dari finance ke engineering. Mendengar pengalaman Cak Ken dan Cak Munadi memberi perspektif yang tidak bisa saya dapatkan di tempat lain,” ujarnya.
Peserta lainnya, Sera, menilai forum tersebut memberi kesempatan untuk belajar langsung dari para pemimpin industri yang telah melewati berbagai fase karier. “Acaranya rapi dan memberi ruang belajar langsung dari para pemimpin industri. Ini ruang yang jarang kami temukan,” katanya.
Professional Muda ITS Meet Up & Networking Event merupakan bagian dari rangkaian Youth Leadership Camp (YLC)-8, program pengembangan kepemimpinan yang diselenggarakan IKA ITS untuk menyiapkan generasi muda yang adaptif, kolaboratif, dan berintegritas. Seluruh konsep hingga pelaksanaan kegiatan ini dirancang dan dijalankan langsung oleh peserta YLC-8 sebagai bagian dari proses pembelajaran kepemimpinan yang mereka jalani.












