Lifestyle

Tiga Film Sejarah Indonesia yang Wajib Ditonton Oleh Generasi Muda

Advertisement

Jakarta, Deras, Id – Banyak cara yang dapat dilakukan untuk merayakan atau mengenang hari kemerdekaan Indonesia. Lumrahnya Masyarakat melakukan serangkaian upacara, mengadakan perlombaan, atau menggelar tradisi unik yang sudah dilakukan sejak dahulu. Namun bagi sobat deras yang tidak suka keramaian atau kaum rebahan, menonton film Sejarah kemerdekaan juga bagian dari cara untuk menglorofikasikan semangat bangsa. Bahwa cinta tanah air dapat bisa disalurkan bagi mereka yang memahami letihnya perjuangan para pahlawan agar Merdeka secara de jure dan de facto.

Kemerdekaan Indonesia yang diperingati setiap 17 Agustus telah menjadi momentum khusus untuk mengenang sejarah panjang perjuangan bangsa Indonesia dalam meraih kemerdekaannya. Sejarah panjang tersebut kini menginspirasi banyak sineas untuk menghasilkan berbagai judul film bertemakan perjuangan kemerdekaan. Banyak di antara film-film tersebut memiliki kualitas yang apik dan mendapatkan banyak pujian.

Tidak heran kalau cukup banyak rekomendasi film kemerdekaan Indonesia yang dapat disaksikan melalui layar kaca atau layanan streaming film. Topik cerita yang diangkat juga sangat beragam dari yang mengangkat cerita pengorbanan prajurit heroik hingga pertempuran berbalut kisah asmara. Dari pada terus penasaran, yuk sbat deras simak 3 rekomendasi film kemerdekaan Indonesia terbaik di bawah ini!

  1. Kadet 1947 (2021)

Film kemerdekaan Indonesia yang menjadi rekomendasi pertama untuk ditonton adalah Kadet 1947. Film karya sutradara Rahabi Mandra dan Aldo Swastia ini telah ditayangkan untuk pertama kali di bioskop pada November 2021 lalu dan ditayangkan juga di Netflix. Kadet 1947 merupakan salah satu karya film terbaru yang mengangkat latar cerita perang kemerdekaan Indonesia 1945-1959. Film yang diadaptasi dari kisah nyata ini menceritakan perjuangan para kadet atau siswa sekolah penerbangan Angkatan Udara Maguwo yang ikut serta dengan barisan tentara Indonesia untuk melawan pasukan Belanda.

Sejak Agresi Militer Belanda I, bangsa Indonesia berjuang untuk merebut kembali wilayah Indonesia yang diduduki Belanda. Menariknya, para kadet tersebutlah yang berambisi melakukan serangan udara pertama ke markas pertahanan Belanda. Namun, mereka segera menemui kendala lantaran belum memiliki keahlian dalam menerbangkan pesawat sehingga para perwira ragu untuk memberikan instruksinya. Hingga akhirnya, mereka bersikeras untuk melakukan serangan udara pertama.

Baca Juga:  Dikira Nonmuslim, Artis Ini Sering Diminta Mualaf
  • The East (2020)

Rekomendasi film kemerdekaan Indonesia yang satu ini agak berbeda dari film lainnya. The East merupakan karya film yang mengangkat latar cerita sejarah perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia, tetapi justru diproduksi oleh sineas Belanda. Tidak heran kalau The East menjadikan seorang tentara kolonial Belanda sebagai sudut pandang pertamanya. Menariknya, narasi sejarah yang ditampilkan justru jarang diketahui masyarakat Belanda kini.

Advertisement

The East menceritakan kisah pemuda bernama Johan de Vries yang bergabung dengan tentara Belanda yang bertugas di Hindia Belanda. Singkat cerita, de Vries mulai semakin dekat dengan pemimpin satuan khusus yang tak segan membunuh para pejuang Indonesia, yaitu Raymond Westerling. Westerling berani melakukan operasi khusus untuk membunuh para pejuang Indonesia dengan cara keji. Saat meluaskan operasinya ke Sulawesi, de Vries menyaksikan sendiri cara-cara tak manusiawi itu. Hal ini kemudian membuat batin Vries menolak. Konflik film pun berpuncak pada guncangan moral yang dialami oleh de Vries. Aspek psikologis inilah yang dieksplorasi secara mendalam oleh The East.

  • Perburuan (2019)
Baca Juga:  Rekomendasi Museum di Jakarta yang Wajib Dikunjungi

Rekomendasi film kemerdekaan Indonesia selanjutnya adalah Perburuan. Buah karya sutradara Richard Oh ini menyajikan kisah pasukan Pembela Tanah Air (PETA) yang berjuang mengalahkan pasukan tentara Jepang di Hindia Belanda. Film yang dirilis pada 2019 lalu ini diadaptasi dari novel dengan judul yang sama karya sastrawan ternama Pramoedya Ananta Toer.

Berselang enam bulan dari kegagalan serangan PETA terhadap tentara Jepang, seorang shodanco PETA bernama Hardo pulang kembali ke halaman rumahnya di Blora, Jawa Tengah. Namun, keberadaan Hardo yang masih dalam keadaan terluka itu justru berhasil dideteksi oleh Jepang. Drama pengejaran siang malam yang dialami Hardo dari tentara Jepang inilah yang menjadi fokus cerita film tersebut.

Advertisement

Penulis: M.FSA I Editor: Apr

Show More

Berita Terkait

Back to top button

Adblock Detected

Mohon Matikan AdBlock di Browser Anda