Opini

Uang Rp247 Trilliun Lenyap dalam Sekejap, Dunia Kripto Memang Masih Bikin Deg-degan

Advertisement

Oleh: Tajuddin*

Dunia kripto seolah tak pernah habis jadi cerita. Masih hangat di ingatan kita tragedi ambruknya mata uang Terra LUNA yang dianggap sebagai keruntuhan mata uang paling tragis di Dunia. Harga Terra LUNA yang sempat menyentuh angka Rp 687 ribu per coinnya, anjlok jauh hingga cuma seharga Rp 0.5 per coinnya. Padahal, Terra LUNA disebut-sebut sebagai kripto dengan tingkat kestabilan relatif lebih aman jika dibandingkan dengan aset kripto lainnya yang sangat fluktuatif. Kini dunia crypto kembali digegerkan oleh hancurnya FTX, sebuah platform pertukaran mata uang kripto.

Bagi seorang trader kripto, mungkin sudah familiar dengan Binance atau FTX. Para trader pasti akan menggunakan platform pertukaran mata uang kripto untuk memperdagangkan asetnya yang masih dalam bentuk dollar atau rupiah dsb.  Laksana Forex, para trader atau yang disebut sebagai investor akan memperjualbelikan asetnya guna meraih keuntungan jangka panjang atau jangka pendek. Binance dan FTX adalah dua pertukaran (exchange) kripto terbesar di Dunia, yang merupakan pasar tempat investor membeli, menjual, dan menyimpan token. Binance adalah pertukaran kripto terbesar berdasarkan volume, sementara FTX berada di lima besar.  Kedua perusahaan ini dipimpin oleh dua orang yang paling berpengaruh di dunia kripto. Binance dikendalikan Changpeng Zhao (atau CZ, begitu dia dikenal), sedangkan FTX oleh oleh lulusan Massachusetts Institute of Technology (MIT) yang bernama Sam Bankman-Fried (atau SBF).

FTX sendiri didirikan di Antigua dan Barbuda pada 2018 oleh Sam Bankman-Fried (SBF). Dalam praktiknya, FTX menawarkan produk inovatif termasuk turunan pertama di industri, opsi, produk volatilitas, dan token leverage. FTX juga menyediakan pasar spot di lebih dari 300 pasangan perdagangan cryptocurrency. Berbagai macam produk FTX dapat diaplikasikan melalui desktop dan seluler sehingga para investor dapat mudah menarik asetnya melalui transfer ke dolar AS, euro, pound Inggris, dolar Australia, dolar Kanada dsb. Penggunaan FTX juga mudah dipraktikan dari semua tingkat keahlian, dari pemula hingga profesional berpengalaman. Biaya perdagangan pasar berjangka dan spot FTX pun kompetitif berkisar antara 0,04 persen hingga 0,07 persen pengambil pasar. Hal ini menjadikan FTX sebagai pesaing utama Binance di Dunia.

Baca Juga:  Mengenal Profesi Pendamping Masyarakat Desa, Refleksi: Tantangan & Harapan (1)

Seperti Binance yang punya mata uang sendiri yaitu BNB dan BSC, FTX juga punya mata uang sendiri yang dinamakan FTT. Masalah menyeruak ketika muncul dugaan nilai rill FTT meragukan. Pasalnya telah terjadi penggelembungan nilai aset FTT guna menarik minat investor. Dugaan ini memicu kepanikan pasar kripto. Binance sendiri membuang semua token FTT dipasarnya hingga para Investor langsung menarik semua uangnya di FTX senilai milyaran dolar. Tak ayal, FTX pun hancur lebur. Hingga akhir-akhir ini SBF menjadi sorotan setelah diketahui melakukan penyalahgunaan dana pengguna platform. Kehancuran FTX membuat SBF yang pada awal November kekayaannya masih berkisar Rp 247 trilliun, kini menjadi nol hingga harus mengajukan pailit ke pengadilan. Kolapsnya SBF dianggap sebagai kehancuran kekayaan terbesar dalam sejarah.

Baca Juga:  Hidup Nyaris Sempurna, Luna Maya Insecure Masalah Fisik
Berita Terkait

Kisah kehancuran FTX ini telah benar-benar menjungkirbalikkan ekosistem kripto dan kemungkinan akan berdampak luas. Apa artinya ini dari kacamata regulasi? Kasus FTX memberikan contoh nyata bagi regulator dalam hal ini pemerintah yang khawatir tentang kurangnya pagar pembatas di ruang kripto yang bebas. Apalagi beberapa bulan lalu telah terjadi guncangan di ekosistem Terra/Luna.

Advertisement

*Pemerhati Kripto

Advertisement

Show More

Berita Terkait

Back to top button

Adblock Detected

Mohon Matikan AdBlock di Browser Anda