BeritaNasional

Penjualan Turun, Aksi Boikot Produk Pro Israel di Indonesia Masih Ramai

Advertisement

Jakarta, Deras.id – Aktivitas jual-beli di toko ritel mengalami penurunan sekitar 3 sampai 4 persen dalam 1 minggu terakhir. Hal ini disebabkan karena aksi boikot produk pro Israel yang masif dilakukan di Indonesia.

“Belum signifikan (dampaknya). Jadi kalau masih angka kira-kira pendekatan yang secara umum sekitar 3-4%, penurunan konsumsi belanja masyarakat, untuk daerah-daerah tertentu belum seluruh daerah,” tutur Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo), Roy N Mande kepada wartawan dikutip Deras.id, Kamis (16/11/2023).

Data tersebut masih belum 100 persen tepat, sebab hanya ritel-ritel di kawasan tertentu yang mendapatkan dampaknya. Namun pihaknya tidak bisa menyebutkan wilayah mana saja yang terdampak penurunan penjualan.

“Data itu tidak bisa cepat, karena kita harus mengumpulkan data yang di toko dan yang diinventaris, jadi dari waktu hampir satu minggu ini (penurunannya),” kata Roy Nicholas Mandey.

Baca Juga:  Ekonom Nilai Proyek Family Office Jokowi Terlalu Manjakan Investor

Ia hanya menyampaikan bahwa pihak yang paling terdampak dari aksi boikot produk pro Israel adalah produsen produk yang diduga berafiliasi dengan Israel. Oleh sebab itu, dampaknya pada omzet hingga dapat terjadi pemutusan hubungan kerja (PHK).

“Produsen pasti (terdampak), karena kalau diboikot pasti produsen karena kan mereka yang punya barang kan. Kita juga pasti terdampak, omzet kita berkurang, produktivitas berkurang,” ujar Roy Nicholas Mandey.

Advertisement

Adanya fenomena ini, pemerintah diharapkan segera turun tangan sebab saat ini telah memasuki masa pemilihan umum yang seharusnya dapat menjadi fase baik untuk para produsen di sektor ritel guna menambah pendapatan. Apabila boikot ini mengganggu operasional perusahaan, maka kemungkinan besar minat investor terhadap perusahaan-perusahaan akan terkait akan turun.

“Misalkan perusahaan jadi setop produksi. Sahamnya akan tergerus kan. Wah ini berhenti nih, karena nggak ada penjualan. Akhirnya dampaknya ke investor. Saham produk itu akan kurang diminati. Produktivitasnya kan berubah itu mulai kelihatan. Bukan pasti berubah, karena beberapa perusahaan pasti bertahan. Ini ke macem-macem, investasi, saham, tenaga kerja, dan lain-lain,” ucap Roy Nicholas Mandey.

Penulis: Risca l Editor: Ifta

Advertisement

Show More

Berita Terkait

Back to top button

Adblock Detected

Mohon Matikan AdBlock di Browser Anda