Jember, Deras.Id –Tuberkulosis, atau yang lebih akrab disapa TBC, telah lama menjadi momok menakutkan bagi masyarakat Indonesia. Penyakit yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis ini tidak hanya mengancam kesehatan fisik, tetapi juga meruntuhkan tatanan sosial di sekitarnya. Di balik fakta medis tentang penularan dan pengobatannya, terdapat lapisan persoalan yang tak kalah rumitnya: stigma sosial yang mengakar, pengucilan yang menyakitkan, kehilangan mata pencaharian yang menghancurkan ekonomi keluarga, hingga beban psikologis yang tak terkira. Di Kabupaten Jember, data menunjukkan bahwa pada tahun 2023 saja terdapat lebih dari 7.300 kasus positif TBC dengan sekitar 730 kematian, sementara jumlah penduduk miskin masih mencapai ratusan ribu jiwa. Dua fakta ini saling terkait erat, menciptakan lingkaran setan yang sulit diputus: kemiskinan memperbesar kerentanan terhadap TBC, dan TBC pada gilirannya menjerumuskan keluarga ke dalam kemiskinan yang lebih dalam lagi. Inilah realitas pahit yang harus dihadapi, dan inilah yang mendorong sekelompok akademisi dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Jember untuk turun tangan, membawa semangat perubahan yang dimulai dari akar rumput.
Menghadapi kompleksitas persoalan ini, tim pengabdian yang terdiri dari para dosen muda dan bersemangat memutuskan untuk tidak tinggal diam. Mereka adalah Fajri Maulana, Senato Erasandi, Yaen Miftakhul Laily, Nian Riawati, Wydha Mustika Maharani, Masadib Akmal Vyandri, Muhamad Nanda Al Hakim Akbar, Laili Rahma Halimah, dan Aryo Prakoso, yang didampingi oleh sejumlah mahasiswa dari Jurusan Ilmu Kesejahteraan Sosial. Mereka bukan sekadar datang untuk memberi ceramah lalu pergi, melainkan merancang sebuah program pemberdayaan yang utuh dan berkelanjutan. Bersama-sama, mereka turun ke Desa Sukorambi, sebuah wilayah di Kabupaten Jember yang dinilai memiliki potensi besar namun masih memerlukan penguatan kapasitas dalam menghadapi dampak sosial TBC. Desa ini dipilih bukan tanpa alasan, karena di sinilah terdapat modal sosial awal yang bisa dikembangkan, berupa paguyuban TB yang pernah melakukan rapat koordinasi untuk memutus rantai penularan. Namun, paguyuban tersebut masih berjalan secara informal dan belum memiliki struktur manajemen yang kuat untuk menjalankan program secara terencana dan berkelanjutan. Di sinilah peluang dan tantangan itu berada, dan di sinilah tim pengabdian melihat celah untuk memberikan kontribusi nyata.
Kegiatan pengabdian yang mereka gagas bukanlah sekadar ceramah satu arah tentang bahaya penyakit menular. Lebih dari itu, tim ini merancang sebuah program pemberdayaan yang bertujuan membangun fondasi kelembagaan sosial di tingkat desa. Mereka menyadari bahwa penanganan TBC tidak bisa hanya mengandalkan dokter dan obat-obatan, melainkan membutuhkan gerakan kolektif dari masyarakat itu sendiri. Pendekatan yang dipilih adalah konstruksi komunitas, khususnya dengan melibatkan Karang Taruna dan mahasiswa, sebagai lembaga pelayanan sosial yang mampu melakukan edukasi, pendampingan, dan pengurangan stigma secara sistematis dan berkelanjutan. Pemilihan Karang Taruna sebagai mitra utama bukanlah kebetulan. Organisasi pemuda ini memiliki jaringan yang luas hingga ke tingkat dusun, memiliki energi dan idealisme yang tinggi, serta telah dikenal dan dipercaya oleh masyarakat. Sementara mahasiswa Ilmu Kesejahteraan Sosial hadir membawa perspektif akademis dan keterampilan teknis yang dapat memperkaya kapasitas komunitas. Perpaduan antara energi lokal dan keilmuan akademis inilah yang diharapkan dapat menciptakan sinergi yang kuat dan berdampak.
Prosesnya dimulai dengan observasi mendalam yang dilakukan melalui koordinasi intensif dengan Pemerintah Desa Sukorambi dan perwakilan Karang Taruna. Tim pengabdian ingin benar-benar memahami denyut nadi masyarakat, menggali potensi yang sudah ada, dan mengidentifikasi celah-celah yang memerlukan intervensi. Mereka menghabiskan waktu untuk berdialog dengan berbagai pihak, mendengarkan cerita-cerita dari warga yang pernah terdampak TBC, dan mempelajari dinamika sosial yang terjadi di desa tersebut. Dari observasi ini, tim menemukan bahwa meskipun kesadaran tentang TBC mulai tumbuh, masih banyak masyarakat yang memiliki pemahaman keliru tentang penularan dan pengobatan. Stigma masih begitu kuat, membuat penderita enggan memeriksakan diri ke puskesmas karena takut dicap dan dijauhi. Bahkan, beberapa keluarga memilih untuk menyembunyikan anggota keluarganya yang sakit daripada harus menghadapi gunjingan tetangga. Situasi ini diperparah dengan keterbatasan ekonomi yang membuat banyak keluarga lebih memprioritaskan kebutuhan sehari-hari daripada biaya pengobatan yang dianggap mahal, meskipun sebenarnya pengobatan TBC di fasilitas kesehatan pemerintah telah disediakan secara gratis. Semua temuan ini kemudian menjadi bahan pertimbangan dalam merancang materi dan pendekatan yang tepat sasaran.
Setelah tahap observasi, kegiatan dilanjutkan dengan sosialisasi dan Focus Group Discussion yang berlangsung di Balai Desa Sukorambi. Suasana ruangan terasa hangat dan penuh antusiasme ketika para peserta, yang sebagian besar adalah pemuda-pemudi Karang Taruna dan mahasiswa, mulai duduk melingkar. Mereka tidak hanya datang untuk mendengarkan, tetapi juga untuk berbicara, berbagi pengalaman, dan merumuskan gagasan. Tim pengabdian dengan sabar memaparkan empat pilar utama yang menjadi kerangka berpikir mereka. Pilar pertama adalah pentingnya memahami bahwa TBC adalah isu sosial, bukan semata-mata masalah medis. Dijelaskan bagaimana penyakit ini memicu stigma yang menghambat proses pengobatan, bagaimana isolasi sosial memperburuk kondisi psikologis penderita, dan bagaimana beban ekonomi yang ditimbulkan dapat menjerumuskan keluarga ke dalam kemiskinan yang lebih parah. Peserta diajak untuk melihat TBC dari perspektif yang lebih luas, sebagai masalah kemanusiaan yang membutuhkan kepedulian kolektif.
Pilar kedua adalah pengenalan manajemen organisasi melalui pendekatan POAC, singkatan dari Perencanaan, Pengorganisasian, Pelaksanaan, dan Pengawasan. Tim pengabdian menjelaskan bahwa setiap program komunitas yang baik harus dimulai dengan perencanaan yang matang, yang mencakup identifikasi masalah, penetapan tujuan, dan penyusunan strategi. Kemudian dilanjutkan dengan pengorganisasian, yaitu membentuk struktur dan pembagian tugas yang jelas agar semua orang tahu apa yang harus dilakukan. Tahap pelaksanaan adalah saat program dijalankan sesuai rencana, dengan tetap memperhatikan fleksibilitas jika ada perubahan di lapangan. Dan yang tak kalah penting adalah pengawasan atau evaluasi, untuk memastikan program berjalan sesuai target dan melakukan perbaikan jika diperlukan. Kerangka POAC ini mungkin terdengar sederhana, namun bagi para peserta yang selama ini menjalankan kegiatan organisasi secara spontan dan tanpa perencanaan matang, ini adalah sebuah pencerahan yang mengubah cara pandang mereka tentang bagaimana sebuah komunitas seharusnya bekerja.
Pilar ketiga adalah urgensi struktur organisasi yang jelas agar koordinasi lintas pihak dapat berjalan efektif. Tim pengabdian menjelaskan bahwa dalam sebuah lembaga pelayanan sosial, setiap orang harus memiliki peran dan tanggung jawab yang terdefinisi dengan baik. Ada yang bertugas sebagai koordinator umum, ada yang mengurus administrasi dan dokumentasi, ada yang mengelola keuangan, dan ada pula yang bertanggung jawab atas program-program spesifik seperti edukasi, pendampingan, atau advokasi. Dengan struktur yang jelas, tidak akan terjadi tumpang tindih tugas atau kebingungan dalam pengambilan keputusan. Lebih dari itu, struktur yang jelas juga memudahkan koordinasi dengan pihak luar, seperti pemerintah desa, puskesmas, dan organisasi lainnya. Peserta diajak untuk mulai membayangkan seperti apa struktur organisasi yang ideal untuk komunitas mereka, dengan mempertimbangkan potensi dan keterbatasan yang ada.
Pilar keempat adalah peran strategis komunitas dalam melakukan edukasi masyarakat, pendampingan pasien dan keluarga, serta kampanye pengurangan stigma yang selama ini menjadi penghalang terbesar bagi penderita untuk sembuh. Tim pengabdian menjelaskan bahwa komunitas memiliki posisi yang sangat istimewa karena mereka adalah bagian dari masyarakat itu sendiri. Mereka memiliki akses dan kepercayaan yang tidak dimiliki oleh petugas kesehatan atau pemerintah. Karena itulah, komunitas dapat menjadi ujung tombak dalam mengubah persepsi masyarakat tentang TBC, melalui dialog-dialog informal di warung kopi, pengajian, atau pertemuan warga lainnya. Mereka juga dapat menjadi pendamping bagi pasien dan keluarga, memberikan dukungan moral dan praktis yang sangat dibutuhkan selama masa pengobatan yang panjang. Dan yang paling penting, komunitas dapat menjadi agen perubahan dalam menghilangkan stigma, dengan menjadi teladan dalam memperlakukan penderita TBC dengan hormat dan kasih sayang, bukan dengan rasa takut dan kecurigaan.
Sesi diskusi menjadi momen paling berharga dalam kegiatan ini. Para peserta tidak hanya bertanya tentang materi, tetapi juga mengaitkannya dengan realitas yang mereka hadapi sehari-hari. Seorang anggota Karang Taruna menceritakan pengalamannya ketika tetangganya diduga menderita TBC namun enggan pergi ke puskesmas karena takut dijauhi warga. Dari situlah muncul pertanyaan kritis: apa yang bisa kami lakukan jika menemui kasus serupa? Diskusi semakin hidup ketika peserta mulai merancang gagasan praktis, seperti pembentukan posko informasi di setiap dusun, program kunjungan rumah bagi pasien yang sulit dijangkau, serta kampanye anti-stigma melalui media sosial yang selama ini akrab di kalangan anak muda. Ada juga yang mengusulkan untuk bekerja sama dengan ibu-ibu PKK dalam sosialisasi perilaku hidup bersih dan sehat, atau menggandeng tokoh agama untuk menyampaikan pesan-pesan kesehatan dari sudut pandang keagamaan. Semua ide ini muncul bukan karena dipaksakan, melainkan karena peserta mulai melihat diri mereka sebagai bagian dari solusi, bukan sekadar penonton dari persoalan yang terjadi di sekitar mereka.
Yang menarik, para peserta juga menyadari bahwa koordinasi dengan pemerintah desa dan puskesmas menjadi kunci agar upaya yang dilakukan tidak berjalan sendiri-sendiri, melainkan terintegrasi dengan program kesehatan yang sudah ada. Mereka mulai memahami bahwa keberhasilan program komunitas sangat ditentukan oleh kemampuan membangun kemitraan dengan berbagai pemangku kepentingan, karena TBC adalah persoalan yang terlalu kompleks untuk ditangani oleh satu pihak saja. Seorang mahasiswa yang terlibat dalam kegiatan ini mengungkapkan pengalamannya dengan penuh semangat: “Saya selama ini belajar tentang pemberdayaan masyarakat di buku, tapi baru kali ini saya merasakan bagaimana rasanya terlibat langsung dalam proses perubahan. Melihat teman-teman Karang Taruna begitu antusias dan penuh ide, saya yakin perubahan itu mungkin terjadi.”
Hasil dari kegiatan ini sungguh menggembirakan. Dari evaluasi yang dilakukan secara kualitatif melalui pengamatan partisipasi dan refleksi bersama, terlihat adanya peningkatan pemahaman yang signifikan di kalangan peserta. Mereka tidak lagi memandang TBC sebagai penyakit yang menakutkan dan memalukan, melainkan sebagai persoalan bersama yang membutuhkan kepedulian kolektif. Peserta juga mulai memahami bagaimana menyusun program komunitas secara terstruktur, mulai dari perencanaan yang matang hingga evaluasi berkala. Mereka menyadari bahwa keberhasilan sebuah program tidak hanya diukur dari jumlah kegiatan yang dilakukan, tetapi juga dari dampak yang dirasakan oleh masyarakat, terutama dalam hal pengurangan stigma dan peningkatan dukungan sosial bagi penderita dan keluarganya. Hal ini terlihat dari kemampuan peserta untuk menjelaskan kembali hubungan antara TBC dan aspek sosial, serta mengidentifikasi langkah-langkah awal yang dapat dilakukan untuk mengorganisir komunitas.
Lebih dari sekadar transfer pengetahuan, kegiatan ini berhasil menanamkan kesadaran bahwa perubahan besar selalu dimulai dari langkah kecil yang diambil oleh mereka yang peduli. Desa Sukorambi kini memiliki aktor-aktor muda yang lebih siap dan percaya diri untuk berperan sebagai garda terdepan dalam penanganan dampak sosial TBC. Mereka adalah Karang Taruna yang selama ini mungkin hanya dikenal sebagai organisasi pemuda untuk kegiatan olahraga dan kesenian, kini mulai melihat potensi besar mereka sebagai agen perubahan di bidang kesehatan sosial. Mereka belajar bahwa organisasi pemuda bukan hanya tempat untuk berkumpul dan bersenang-senang, tetapi juga wahana untuk memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat. Begitu pula para mahasiswa Ilmu Kesejahteraan Sosial yang terlibat, mereka tidak hanya mendapatkan pengalaman lapangan yang berharga, tetapi juga belajar bahwa ilmu yang mereka tekuni di bangku kuliah memiliki relevansi yang sangat nyata ketika dihadapkan pada persoalan masyarakat yang kompleks. Mereka menyaksikan sendiri bagaimana teori-teori tentang pemberdayaan, advokasi, dan pengorganisasian komunitas menjadi hidup ketika dipraktikkan di lapangan.
Tentu saja, perjalanan masih panjang. Kegiatan ini adalah fondasi awal yang masih memerlukan penguatan berkelanjutan. Tim pengabdian berharap agar komunitas yang mulai terbentuk ini dapat terus berkembang, menyusun program kerja yang lebih terukur, menjalin kemitraan yang lebih erat dengan puskesmas dan pemerintah desa, serta memanfaatkan teknologi untuk menjangkau lebih banyak masyarakat. Mereka juga menyadari bahwa keberlanjutan program sangat bergantung pada kaderisasi dan pelembagaan, sehingga komunitas tidak bergantung pada individu tertentu tetapi memiliki sistem yang kuat untuk terus berjalan bahkan ketika anggotanya berganti. Untuk itu, tim pengabdian merekomendasikan agar dilakukan pelatihan lanjutan, studi banding ke komunitas serupa yang sudah berhasil, serta pendampingan intensif dalam beberapa bulan ke depan hingga komunitas benar-benar mandiri.
Di sisi lain, pemerintah desa juga diharapkan dapat memberikan dukungan kebijakan yang memungkinkan komunitas pelayanan sosial ini dapat beroperasi secara efektif. Pengakuan resmi dari pemerintah desa, penyediaan ruang sekretariat, dan alokasi anggaran partisipatif adalah beberapa bentuk dukungan yang dapat diberikan. Puskesmas setempat juga diharapkan dapat membangun kemitraan yang setara dengan komunitas, tidak hanya sebagai penerima layanan tetapi juga sebagai mitra dalam perencanaan dan evaluasi program. Kolaborasi antara komunitas, pemerintah desa, dan fasilitas kesehatan inilah yang akan menciptakan ekosistem penanganan TBC yang holistik dan berkelanjutan, di mana setiap pihak memiliki peran dan saling melengkapi.
Kisah Desa Sukorambi mengajarkan kepada kita bahwa perubahan sosial tidak selalu harus dimulai dari kebijakan besar pemerintah atau program internasional yang megah. Kadang-kadang, perubahan itu dimulai dari ruang pertemuan sederhana di balai desa, dari diskusi hangat antara pemuda dan akademisi, dan dari keberanian untuk melihat sebuah penyakit bukan sebagai aib, melainkan sebagai tanggung jawab bersama. Inilah esensi dari pembangunan komunitas yang sejati: bukan membangun dari atas, tetapi memberdayakan dari bawah; bukan memberi solusi instan, tetapi menumbuhkan kapasitas untuk mencari solusi sendiri; bukan menciptakan ketergantungan, tetapi memupuk kemandirian. Universitas Jember, melalui tim pengabdiannya, telah menorehkan langkah nyata dalam membangun kesadaran itu. Dan kini, tugas selanjutnya ada di tangan Karang Taruna dan masyarakat Desa Sukorambi untuk terus bergerak, terus belajar, dan terus peduli.
Yang menarik dari kegiatan ini adalah bagaimana ia berhasil menjembatani dunia akademis dan dunia nyata. Di satu sisi, ada mahasiswa yang belajar tentang teori-teori kesejahteraan sosial, tentang konsep pemberdayaan dan pengorganisasian komunitas. Di sisi lain, ada Karang Taruna yang memiliki pengalaman langsung tentang dinamika masyarakat tetapi mungkin belum memiliki kerangka berpikir yang sistematis. Ketika keduanya bertemu, terjadi pertukaran pengetahuan yang saling menguntungkan. Mahasiswa mendapatkan pengalaman lapangan yang membumi, sementara Karang Taruna mendapatkan perspektif baru yang memperkaya cara mereka memandang dan menangani masalah. Ini adalah contoh nyata dari sinergi antara pengetahuan akademis dan kearifan lokal, yang jika dikelola dengan baik dapat menghasilkan solusi-solusi inovatif yang tidak terpikirkan sebelumnya.Ke depan, tim pengabdian berharap agar model pemberdayaan yang dilakukan di Desa Sukorambi ini dapat menjadi contoh bagi desa-desa lain di Kabupaten Jember, bahkan di luar Jember, yang menghadapi tantangan serupa. Mereka percaya bahwa setiap desa memiliki potensi dan modal sosial yang unik, dan tugas akademisi adalah membantu menggali dan mengembangkan potensi tersebut, bukan memaksakan solusi dari luar. Dengan pendekatan yang partisipatif dan kontekstual, pemberdayaan masyarakat akan lebih bermakna dan berkelanjutan. Karena pada akhirnya, perang melawan TBC tidak akan pernah dimenangkan hanya oleh dokter dan obat-obatan, melainkan oleh kesadaran kolektif dan gerakan sosial yang melibatkan seluruh elemen masyarakat. Ketika komunitas bersatu, tidak ada stigma yang terlalu kuat untuk dihancurkan, dan tidak ada tantangan yang terlalu besar untuk dihadapi. Desa Sukorambi telah memulai langkah itu, dan dunia akan menyaksikan bagaimana sebuah desa kecil di Jember mampu menginspirasi perubahan yang lebih besar.
Penulis: Tim Pengabdian FISIP Universitas Jember
