Opini

FOMO: Tidak Bisa Berkata Tidak

*)Sugiati

Seringkali seseorang memaksakan dirinya untuk mengikuti tren-tren yang baru, atau mengikuti kemana aktivitas-aktivitas yang tidak perlu. Padahal, dirinya sendiri saja tak menginginkan itu. Perasaan ini disebut dengan FOMO. FOMO tentu sudah sering terjadi dan menimpa semua kalangan, tak terkecuali anak-anak muda masa kini. Hal ini kemudian yang menjadi fokus kajian dalam tulisan ini. Oleh karena itu, Penulis akan melihat korelasi antara sikap sehari-hari manusia, dengan perasaan FOMO.

Sebelum beranjak lebih jauh, perlu diketahui bahwa fenomena ini biasanya bertujuan agar seseorang tidak tertinggal sesuatu yang baru atau aktivitas tertentu. Baik yang dilakukan di media sosial maupun di dunia nyata. Fenomena ini disebabkan oleh rasa cemas atau khawatir akan ketertinggalan suatu aktivitas tertentu.

FOMO, atau fear of missing out merupakan salah satu istilah yang digunakan dalam melihat perasaan takut atau khawatir akan ketertinggalan sesuatu atau suatu aktivitas tertentu yang memungkinkannya harus mengikuti atau memiliki hal tersebut. Rasa takut atau khawatir akan ketertinggalan ini muncul dari dalam diri seseorang yang dilatar belakangi oleh kehidupan orang lain, karena terlihat lebih baik sehingga merasa takut tertinggal.

Salah satu penyebab dari FOMO adalah adanya media sosial. Pasalnya, dengan adanya media sosial , membuat banyak orang dengan mudah menjumpai apapun dan kapanpun dengan mudah. Hal itu seperti foto dan video yang diperlihatkan seseorang ke khalayak umum. Maka dengan adanya hal tersebut, membuat seseorang merasa takut atau khawatir tertinggal, apabila yang dilihat lebih baik dari apa yang dimilikinya.

Baca Juga:  Setelah Seratus Tahun, Lalu Apa? Sebuah Refleksi 100 Tahun Nahdlatul Ulama

Seseorang yang sedang mengalami FOMO, akan cenderung sedikit menikmati kehidupannya. Hal itu lantaran, ia terus membandingkan hidupnya dengan orang lain. FOMO dapat dialami oleh siapa saja, baik tua, muda, laki-laki ataupun perempuan.

Selain dari diri sendiri, FOMO juga dialami seseorang karena pengaruh dari luar atau eksternal. Hal tersebut dapat dilihat ketika ada seseorang yang memamerkan kemewahan, maka inilah yang akan menjadi salah satu penyebab dari luar, yaitu munculnya FOMO pada diri seseorang. Apakah kita semua pernah mengalaminya?

Oleh karena itu, setiap orang perlu mengenali gejala perasaan FOMO. Berikut adalah gejala-gejala yang dialami apabila mengalami perasaan FOMO:

  1. Tidak bisa terpisah lama dengan gadget yang ia miliki. Seseorang yang memiliki perasaan FOMO, akan sering ketergantungan gadget. Hal itu disebabkan perasaan menggebu-gebu, akibat keingintahuannya tentang kabar terbaru yang menurutnya bisa ia adopsi, agar tidak tertinggal informasi tentang suatu aktivitas atau tren.
  2. Selalu kepo akan kehidupan seseorang. Maka, seperti yang dibahas bersama tadi, FOMO adalah perasaan khawatir akan ketertinggalan dari seseorang. Oleh karena itu, perasaan ini juga diwarnai dengan rasa kaingin tahuan akan kehidupan orang lain yang menurutnya lebih baik dan itu menggebu, agar ia tidak tertinggal.
  3. Mengeluarkan uang lebih dari apa yang ia butuhkan dan cenderung menuruti apa yang ia inginkan. Selain perasaan-perasaan yang merugikan dirinya sendiri secara psikis, perasaan FOMO ini juga menyebabkan sifat boros dan akan menguras materiil seseorang. Pasalnya, dengan dilatar belakangi oleh sifat tidak mau tertinggal, ia membeli apa yang tidak dibutuhkan.
  4. Tidak bisa mengatakan tidak. Akibat rasa khawatir akan ketertinggalan aktivitas, maka seseorang yang mengalami perasaan FOMO, akan cenderung selalu mengatakan “iya” meskipun dirinya tidak ingin melakukannya. Hal itu dilakukan, semata ingin memenuhi ambisinya untuk menghilangkan rasa takut dan kekhawatirannya akan ketertinggalan.
Baca Juga:  Penerapan Sadamasokisme Pada Film Fifty Shades Of Grey Dalam Hubungan Pasutri : Analisis sosiologi Max Weber

Perasaan FOMO, tentu saja dapat merugikan yang mengalaminya. Hal itu lantaran dapat menyebabkan stress, susah tidur dan khawatir. Tentu saja ini akan sangat mengganggu kehidupan seseorang. Apalagi jika sudah mengganggu kesehatan mental yang semestinya setiap manusia hidup perlu tenang.

Meski begitu, perasaan ini dapat dihilangkan dengan upaya-upaya sederhana yang jarang disadari oleh banyak orang. Sejalan dengan adanya gejala-gejala diatas, maka gejala yang tidak dapat mengatakan tidak meski tidak ingin, merupakan sifat yang hampir dimiliki oleh setiap orang. Namun, banyak dari mereka yang tidak menyadari hal tersebut.

Ya, mengatakan “iya” padahal tidak ingin, tidak butuh atau tidak perlu merupakan respon dari perasaan khawatir dan takut tertinggal akan sesuatu. Oleh karena itu, jika hendak melihat bagaimana cara kerja perasaan FOMO, maka kita dapat meneliti diri sendiri dari kebiasaan-kebiasaan yang jarang disadari. Sejatinya, menghilangkan perasan FOMO juga termasuk salah satu usaha menyehatkan hati, mental dan perasaan khawatir berlebihan.

Baca Juga:  Barat dan Kredo HAM yang Paradoks; Sebuah Refleksi Kritis

Tidak ada yang salah jika mengatakan tidak, apabila tidak ingin mengikuti sesuatu atau melakukannya. Sejatinya, kemerdekaan adalah milik diri sendiri dan bukan dilandasi akan kepuasaan kita terhadap kehidupan orang lain, menghilangkan rasa khawatir dan ketakutan yang berlebihan akan ketertinggalan. Setiap orang memiliki jalan hidup yang berbeda-beda, bergantung bagaimana menikmatinya.

*) Mahasiswa Sosiologi FISIB Universitas Trunojoyo Madura

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button

Adblock Detected

Mohon Matikan AdBlock di Browser Anda