Opini

Fenomena Keengganan Melunasi Utang

 

Oleh: Pahlevi)*

Di sebuah warung kopi kecil di pinggiran kota, Ratna, seorang pegawai kantoran berusia 40 tahun, duduk gelisah menunggu temannya, Rifai. Sudah hampir enam bulan sejak Rifai meminjam uang darinya, tetapi hingga saat ini, belum ada tanda-tanda pembayaran kembali. Setiap kali Ratna mengingatkan, Rifai selalu punya alasan baru.

Fenomena keengganan melunasi utang ini bukanlah hal yang asing dan tampaknya semakin marak terjadi di masyarakat. Dalam beberapa tahun terakhir, gaya hidup konsumtif semakin merajalela, terutama di kalangan masyarakat perkotaan. Kartu kredit, pinjaman online, dan berbagai fasilitas kredit lainnya memberikan kemudahan akses untuk memperoleh barang dan jasa secara instan. Namun, kemudahan ini sering kali tidak diimbangi dengan kesadaran akan kewajiban untuk melunasi utang.

Banyak orang seperti Rifai yang terjerat dalam lingkaran utang karena kebiasaan belanja yang tidak terkendali. Dari membeli gadget terbaru, hidup mewah, hingga gaya hidup hedonistik, utang menjadi solusi instan yang menggoda. Namun, ketika waktu pembayaran tiba, keengganan untuk melunasi utang mulai muncul. Ada berbagai alasan di balik perilaku ini, mulai dari kurangnya pengelolaan keuangan yang baik hingga adanya persepsi bahwa utang adalah masalah yang bisa ditunda.

Baca Juga:  Bahaya APK; Penempelan Poster Kampanye pada Pohon Berdampak Buruk bagi Lingkungan

Keengganan melunasi utang tidak hanya berdampak pada kondisi finansial individu, tetapi juga membawa konsekuensi psikologis dan sosial yang signifikan. Dari sisi psikologis, beban utang yang menumpuk bisa menyebabkan stres, kecemasan, dan depresi. Ketika seseorang terus-menerus menghindari kewajibannya, rasa bersalah dan malu juga bisa menghantui, meskipun tidak selalu disadari.

Dari sisi sosial, perilaku ini dapat merusak hubungan antarindividu. Kasus seperti Ratna dan Rifai menunjukkan bagaimana utang bisa menjadi sumber ketegangan dan konflik. Ratna merasa kecewa dan kehilangan kepercayaan terhadap Rifai, sementara Rifai mungkin merasa tertekan dan terus menghindar dari pertemuan. Pada akhirnya, utang yang tidak diselesaikan dapat memutuskan tali persaudaraan, persahabatan, dan hubungan profesional.

Ada beberapa faktor yang dapat menjelaskan mengapa seseorang enggan melunasi utang. Pertama, kurangnya literasi keuangan. Banyak orang tidak memiliki pengetahuan yang cukup tentang pengelolaan keuangan yang baik, termasuk pentingnya membayar utang tepat waktu. Kedua, sifat menunda-nunda atau procrastination. Sifat ini sering kali muncul ketika seseorang merasa kewalahan atau tidak tahu harus mulai dari mana untuk menyelesaikan masalah utangnya.

Ketiga, adanya budaya permisif yang cenderung mentolerir perilaku berutang. Dalam beberapa kasus, masyarakat mungkin tidak memberikan tekanan sosial yang cukup untuk mendorong individu melunasi utangnya. Keempat, faktor ekonomi yang tidak stabil, seperti kehilangan pekerjaan atau biaya hidup yang meningkat, juga dapat membuat seseorang kesulitan melunasi utang.

Baca Juga:  Banyak Negara Asia Selatan Terlilit Utang, Ini Dampaknya

Mengatasi keengganan melunasi utang memerlukan pendekatan yang komprehensif. Edukasi keuangan adalah langkah pertama yang penting. Pemerintah, lembaga keuangan, organisasi non-pemerintah hingga keluarga maupun kawan terdekat harus dapat berperan dalam meningkatkan literasi keuangan masyarakat. Bahkan, program-program pendidikan tentang pengelolaan uang, perencanaan anggaran, dan pentingnya membayar utang harus diperkenalkan sejak dini, baik di sekolah maupun di komunitas.

Selain itu, dukungan psikologis dan konseling keuangan juga dapat membantu individu yang terjerat utang. Layanan ini dapat memberikan bimbingan tentang cara mengelola utang, merencanakan pembayaran, dan mengatasi stres yang terkait dengan masalah finansial. Pembentukan kelompok dukungan peer to peer hingga support group juga bisa menjadi solusi, di mana individu dapat berbagi pengalaman dan strategi dalam mengelola utang.

Dari sisi budaya, perlu ada perubahan dalam cara pandang masyarakat terhadap utang. Masyarakat perlu membangun kembali nilai-nilai yang menekankan pentingnya tanggung jawab dan integritas dalam memenuhi kewajiban finansial. Selain itu, stigma sosial terhadap perilaku menghindari utang harus diperkuat, agar orang merasa terdorong untuk segera menyelesaikan utangnya.

Baca Juga:  Polemik Utang Anies Baswedan, Sandiaga: Saatnya Tatap Masa Depan

Sebuah kisah inspiratif datang dari Joko, seorang pria berusia 35 tahun yang dulunya terjerat utang hingga puluhan juta rupiah. Setelah menghadapi tekanan finansial yang berat dan hampir kehilangan rumahnya, Joko memutuskan untuk mengubah hidupnya. Joko selalu belajar bagaimana mengelola keuangannya dengan lebih baik. Dia membuat rencana pembayaran utang yang realistis dan disiplin menjalankannya. Dalam tiga tahun, Joko berhasil melunasi semua utangnya dan kini aktif mengedukasi masyarakat tentang pentingnya literasi keuangan.

Fenomena keengganan melunasi utang adalah masalah kompleks yang berdampak luas pada individu dan masyarakat. Dengan meningkatkan literasi keuangan, memberikan dukungan psikologis, dan mendorong perubahan budaya, kita dapat membantu mengatasi masalah ini. Kisah-kisah seperti Joko menunjukkan bahwa dengan tekad dan bantuan yang tepat, seseorang dapat keluar dari jeratan utang dan membangun kehidupan finansial yang lebih sehat. Tantangan ini memerlukan upaya bersama, tetapi dengan kesadaran dan tindakan yang tepat, kita dapat menciptakan masyarakat yang lebih bertanggung jawab secara finansial.

)* Pemerhati Sosial

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

Adblock Detected

Mohon Matikan AdBlock di Browser Anda