Analisa

Dampak Candu Gadget pada Anak

Lajunya perkembangan teknologi di era saat ini sangat berpengaruh terhadap segala lini kehidupan, terlebih lagi terkait teknologi informasi. Penggunaan teknologi informasi belakangan ini dapat dikatakan masif, baik itu untuk akses kesehatan, hobi, bisnis, hiburan dan lainnya. Tidak adanya batasan jarak, ruang dan waktu menjadikan informasi bisa diterima kapan saja dan dimana saja.

Salah satu produk dari aplikasi teknologi informasi yang sangat berkembang pesat saat ini adalah gadget.  Gadget sendiri dapat berupa tablet PC, Laptop dan juga telepon seluler atau smartphone. Gadget pada era globalisasi saat ini mudah dijumpai, sebab hampir semua kalangan umur memilikinya. Pada dasarnya penggunaan gadget dapat mempermudah komunikasi dan memperoleh informasi.

Namun, ketergantungan akan gadget akan berdampak pada sesesorang, terlebih khususnya bagi anak-anak dan remaja. Sebab pada rentan usia dibawah 5 tahun dan usia 12 sampai 19 tahun merupakan masa-masa produktif. Apabila  penggunaan gadget terlama tentu akan berdampak pada diri anak, seperti pada kesehatan dan mental.

Meningkatnya kasus kecanduan gadget pada anak terus meningkat, seperti halnya yang terjadi di Surabaya. Pada akhir tahun 2023 diketahui jika telah terjadi peningkatan kasus candu gagdet sebesar 20 persen. Psikiater Konsultan Anak dan Remaja RS Jiwa Menur, Ivana Sajogo, menyatakan bahwa rata-rata kasus kecanduan gadget dialami oleh usia 14-19 tahun.

“Kasusnya naik sekitar 20 persen saat ini. Usia 14-19 tahun sering mendapatkan perawatan. Internet itu mengerikan dan menjadi penanganan yang kompleks,” ungkap Ivana.

Data pengguna gadget

Penggunaan gadget atau gawai dalam kehidupan sehari-hari seakan menjadi hal yang lumrah di temui, baik itu di rumah,  kantor, sekolah, pusat perbelanjaan atau bahkan di restoran. Namun yang menjadi dilema ketika anak-anak ataupun remaja yang tidak bisa lepas dari gawainya dalam menjalankan kehidupan sehari-hari dari bangun tidur hingga tidur lagi.

Menurut laporan State of Mobile 2024, Indonesia merupakan negara yang paling “kecanduan” menggunakan perangkat mobile seperti ponsel atau tablet Android, dari laporan dari Data.ai ini mencatat, rata-rata warga Indonesia menggunakan perangkat tersebut 6,05 jam per hari pada 2023, paling lama dibanding negara lain.

Baca Juga:  Polusi Udara di Ibu Kota Jakarta

Sedangkan pada tahun 2022, merupakan angka durasi penggunaan gadget terlama di Indonesia yang tercatat, dengan durasi rata-rata 6,14 jam per hari artinya jam produktif (diluar jam tidur) banyak digunakan untuk menggunakan gadget.

Selain itu, berdasarkan preferensi usia diketahui bahwa dari data yang dihimpun oleh Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2023, Kelompok umur <15 tahun menguasai/memiliki gadget dengan persentase 36,99%, dan kelompok rentang usia 15-24 tahun menguasai/memiliki gadget dengan persentase 92,14%.

Berdasarkan data ini, menunjukkan jika rentang usia anak-anak dan remaja merupakan kelompok usia yang sangat masif dalam penggunaan gadget. Kondisi ini tentu harus menjadi perhatian khusus, terutama bagi keluarga dalam mengawasi anaknya dalam penggunaan gagdet dan memberikan batasan waktu agar terhindar dari kecanduan gadget.

Kasus kecanduan gadget

Kasus kecanduan gadget bukanlah hal yang baru, sebab dari tahun ke tahun terdapat berita terkait hal ini. Setidaknya ada beberapa kasus yang tersorot media dan menjadi pemberitaan di media sosial. Berikut ini contoh kasus kecanduan gadget yang pernah terjadi:

  1. Remaja Bekasi alami gangguan jiwa

Terjadi pada bulan Oktober 2019, dua orang remaja asal Bekasi mengalami kecanduan game online sehingga menyebabkan gangguan jiwa.

  1. Tiga anak di Semarang dirawat karena kecanduan game

Terjadi pada bulan Oktober 2019, tiga orang anak yang rata-rata berusia 9 tahun harus menjalani terapi karena kecanduan game.

Psikiater RSJD Amino Gondohutomo, Hesti Anggriani mengatakan tiga anak yang rata-rata berusia 9 tahun harus menjalani terapi karena kecanduan game.

“Dua pasien benar-benar murni adiksi atau kecanduan game. Satunya lagi didiagnosis gangguan jiwa karena main game terus,” ujar Hesti.

  1. Kecanduan Gadget di Jawa Barat yang terjadi pada belasan anak
Baca Juga:  Stres Ditinggal Cerai Istri, Ayah Sandera Anak Sendiri di Depok

Terjadi pada bulan Maret 2021, dimana terdapat belasan anak dirawat akibat kecanduan gawai dan salah satunya ada yang meninggal dunia.

Kasus yang terjadi banyak disebabkan karena kecanduan game dan ini terjadi pada anak-anak hingga remaja. Penggunaan gadget yang berlebihan pasti akan berdampak buruk bagi kesehatan. Sehingga pengawasan dan pembatasan dalam penggunaan gadget sangat diperlukan untuk mengindari kasus serupa.

Dampak Negatif

Penggunaan gadget pada dasarnya memiliki dampak positif jika digunakan secara tepat. Namun, dibalik itu terdapat dampak negatif yang menghantui jika penggunaanya berlebihan atau bahkan disalahgunakan.

Anak merupakan kelompok umur yang sangat rentan terkena dampak negatif penggunaan gadget karena anak belum bisa membedakan konten mana saja yang cocok untuk perkembangannya, selain itu kolompok usia remaja juga merupakan kelompok umur yang juga rentan terhadap penggunaan gagdet. Sebab pada masa remaja, rasa keingin tahuan akan sesuatu sangatlah tinggi sehingga apabila tidak terdapat pengawasan dari orang tua akan berdampak negatif.

Menurut penelitian Nur Sri Rahayu dalam (Hayani dan Kurniasih) pada jurnal yang berjudul gadget dan anak usia dini, menyebutkan jika gadget memiliki dampak negatif sebagai berikut:

  1. Depresi

Penggunaan gadget yang terlalu sering dan berlebihan dapat menyebabkan kecanduan, sehingga apabila tidak memainkan gadget akan merasa cemas sehingga akan berpotensi mengalami depresi;

  1. Mempengaruhi nilai moral

Dapat berpotensi menurunkan karakter atau moral anak. Apabila orang tua tidak mampu memfilter tontonan anak, mereka akan berpotensi menonton konten-konten buruk yang mengandung kekerasan atau kata-kata kasar. Terlebih untuk anak usia dini yang merupakan peniru ulung. Sehingga sangat perlu pengawasan orang tua ketika memberikan anaknya gadget;

  1. Gangguan Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD)

Menurut Setianingsih (2018) dalam Nur Sri Rahayu (2022), penggunaan gadget secara berlebihan dan tanpa adanya pengawasan orang tua, tentunya dapat menyebabkan gangguan pada anak. Gangguan tersebut diantaranya yaitu anak akan kesulitan untuk fokus, mengalami gangguan perilaku yang menyebabkan gangguan belajar, dan mudah gelisah. Anak yang mengalami kecanduan gadget tentu akan mudah gelisah saat jauh dari gadget bahkan akan marah ketika dilarang menggunakan gadget;

  1. Mengalami masalah belajar (kurang fokus)
Baca Juga:  Bola Salju Impor Beras di Negara Agraris

Penggunaan gadget yang berlebihan membuat anak kurang fokus dan cenderung malas-malasan ketika mengerjakan tugas karena mereka akan memikirkan dan memilih gadgetnya;

  1. dan, Menggangu waktu tidur

Dampak negatif dari gadget yang sering terjadi adalah susah tidur.

Dampak negatif penggunaan gadget seringkali tidak menjadi perhatian khusus bagi orang tua terhadap anaknya, padahal kondisi ini bisa berbahaya pada kesehatan jiwa dan mental anak kedepannya jika dilakukan sampai berlebihan.

Solusi terhindar candu gadget

Menghindarkan anak dari kecanduan gadget adalah sebuah tantangan, akan tetapi ini bukanlah hal yang mustahil untuk bisa dilakukan. Menurut pengamat gadget Lucky Sebastian,tips agar anak terhindar dari kecanduan gadget dimulai dari orang tuanya, sebab seorang anak  cenderung akan mengikuti pola perilaku orang tuanya.

“Jika orang tua melarang tapi orang tua juga terus menatap gawainya, pelarangan ini cenderung tidak akan berhasil. Jadi pertama orang tua harus memberikan contoh sesuai yang dianjurkan,” kata Lucky.

Dilansir dari instagram @diskominfobeltim, setidaknya ada beberapa tips untuk menjaukan anak dari kecanduan penggunaan gagdet atau gawai yaitu :

  1. Batasan usia

Jangan kenalkan gawai pada anak dibawah 7 tahun;

2. Batasi waktu

Lakukan aturan waktu penggunaan gawai pada anak, misalnya 1 jam dalam sehari. Jadilah panutan. Sebaiknya orang tua tidak menggunakan gawai sepanjang hari di depan anak;

3. Tempat khusus

Siapkan tempat khusus dalam menggunakan gadget, misalnya hanya boleh di ruang keluarga;

4. Aktivitas fisik

Alihkan anak pada aktivitas fisik diluar rumah, menjalankan hobi atau beraktivitas lainnya seperti berkebun dan lain-lain.

Penulis: HvD l Editor: Uud

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

Adblock Detected

Mohon Matikan AdBlock di Browser Anda