Si Becatu Hadir, Dorong Literasi Digital dan Kemampuan Membaca Siswa SDN Ngayung

Lamongan, Deras.Id — Upaya meningkatkan kemampuan membaca permulaan siswa sekolah dasar terus dilakukan melalui inovasi pembelajaran berbasis teknologi. Salah satunya melalui Si Becatu, aplikasi pembelajaran interaktif yang dikembangkan di SD Negeri Ngayung untuk membantu siswa kelas I menguasai kemampuan membaca secara lebih menyenangkan, fleksibel, dan sesuai dengan kebutuhan belajar anak.
Inovasi ini dilatarbelakangi hasil asesmen awal literasi pada semester ganjil tahun ajaran 2024/2025 yang menunjukkan sebanyak 38 persen siswa kelas I belum mencapai kompetensi minimum membaca permulaan. Kondisi tersebut mendorong sekolah mencari pendekatan pembelajaran yang lebih variatif karena sebagian siswa mengalami kesulitan memahami huruf, suku kata, hingga kosakata dasar.
Selama ini, pembelajaran membaca masih menghadapi tantangan berupa rendahnya motivasi belajar, metode yang cenderung konvensional, serta keterbatasan media pembelajaran interaktif. Pembelajaran yang berlangsung secara satu arah membuat sebagian siswa mudah kehilangan fokus dan mengalami kejenuhan.
Si Becatu hadir sebagai media pembelajaran digital yang menggabungkan unsur visual, audio, interaksi, dan gamifikasi. Materi disusun secara bertahap mulai dari pengenalan alfabet, huruf vokal dan konsonan, suku kata, hingga kosakata yang dekat dengan kehidupan anak, seperti nama benda, hewan, warna, dan sifat.
Pengembangan aplikasi dilakukan menggunakan Articulate Storyline sehingga materi dapat dikemas dalam bentuk pembelajaran interaktif dengan kuis dan umpan balik langsung. Pendekatan tersebut memberikan kesempatan kepada siswa untuk belajar secara aktif sekaligus menyesuaikan kecepatan belajar masing-masing.
“Si Becatu tidak hanya dirancang sebagai media untuk mengenalkan huruf dan kata, tetapi juga sebagai sarana menciptakan pengalaman belajar membaca yang menyenangkan dan tidak monoton,” demikian konsep pengembangan inovasi tersebut.
Pelaksanaan Si Becatu dilakukan melalui beberapa tahapan, dimulai dari identifikasi permasalahan dan perancangan konten, pengembangan sistem digital, uji coba terbatas, sosialisasi kepada guru dan orang tua, implementasi dalam kegiatan belajar mengajar, hingga monitoring dan asesmen berkala.
Dalam penerapannya, aplikasi dapat digunakan secara berkelompok saat pembelajaran di sekolah maupun secara mandiri di rumah dengan pendampingan orang tua. Guru juga dapat memanfaatkan hasil kuis dan log penggunaan sebagai bahan untuk memantau perkembangan kemampuan membaca siswa.
Inovasi tersebut tidak hanya menyasar siswa, tetapi juga melibatkan guru dan orang tua. Guru memperoleh media pembelajaran yang lebih interaktif dan terstruktur, sedangkan orang tua mendapatkan sarana pendampingan belajar membaca yang dapat digunakan di rumah.
Sekolah menargetkan sedikitnya 85 persen siswa kelas I mencapai kompetensi membaca permulaan, seluruh guru kelas I memanfaatkan media digital dalam pembelajaran, serta tingkat kepuasan orang tua mencapai 90 persen.
Dalam jangka panjang, Si Becatu diharapkan mampu menurunkan persentase siswa yang belum lancar membaca dari 38 persen menjadi di bawah 10 persen. Selain meningkatkan kemampuan literasi dasar, inovasi ini juga diarahkan untuk membangun motivasi, kemandirian, dan kepercayaan diri siswa dalam belajar.
Kehadiran Si Becatu sekaligus menjadi upaya mengarahkan penggunaan perangkat digital di kalangan anak ke aktivitas yang lebih edukatif. Smartphone tidak hanya digunakan sebagai sarana hiburan, tetapi dapat menjadi media belajar yang aktif, terarah, dan menyenangkan.
Melalui inovasi tersebut, SD Negeri Ngayung berupaya memperkuat implementasi pembelajaran yang bermakna dan berdiferensiasi sekaligus membangun budaya literasi digital sejak jenjang pendidikan dasar. Si Becatu diharapkan dapat terus dikembangkan dan direplikasi sebagai salah satu alternatif media pembelajaran membaca permulaan di sekolah dasar.

Penulis: AW

Exit mobile version