Lindungi Identitas Pendukungnya, Aurelie Moeremans Pilih Tak Repost Dukungan di Media Sosial

Jakarta. Deras.id – Aktris Aurelie Moeremans menjelaskan tidak lagi me-repost story dari teman dan rekan artis di media sosial terkait dukungan atas karyanya yang berjudul Broken Strings. Keputusan tersebut dia ambil untuk melindungi teman dan rekan artis dari ancaman orang tidak dikenal.

Istri Tayler Bigenho pernah me-repost story dari teman aktrisnya Hesti Purwadinata, namun timbal baliknya Hesti dan suaminya malah mendapatkan ancaman. Perempuan yang sekarang tinggal di Amerika Serikat itu tidak mau keselamatan orang lain terancam karena memberikan dukungan kepadanya.

“Aku pernah repost story Teh Hesti. Setelah itu, sampai sekarang, Teh Hesti dan suaminya masih terus diancam. Dari DM, sampai ke WhatsApp,” ungkap Aurelie dalam channelnya, dikutip pada Minggu (11/1/2026). 

“Kalau aku yang diancam, aku bisa terima. Tapi kalau sampai orang lain ikut kena hanya karena berdiri di sampingku, itu berat,” imbuhnya.

Perempuan yang pernah membintangi film ‘Mantan tapi Menikah’ itu menjelaskan tidak me-repost bukan berarti tidak mendukung. Dia mengungkapkan sangat menghargai semua dukungan yang diberikan kepadanya walau tidak diunggah di media sosial. Hal itu dilakukan untuk melindungi identitas para pendukungnya dari hal buruk yang tidak diinginkan.


“Dengan aku tidak repost, dia tidak tahu siapa saja yang mendukungku. Dan teman-temanku bisa tetap aman dari ancaman nggak jelas,” jelasnya.


Perempuan 32 tahun ini, sangat menghargai dukungan dan doa yang ditunjukan kepadanya. Walaupun secara diam-diam, dia menjelaskan bahwa dukungan yang diberikan kepada para pembacanya melalui kolom komentar telah ia baca.


“Doa dan dukungan kalian sampai kok. Diam-diam, tapi kuat,” tuturnya.

Perempuan yang memiliki nama lengkap Aurelie Alida Marie Moeremans itu mengungkapkan alasannya menulis buku bertajuk Broken Strings untuk menjelaskan pengalaman pribadinya saat mengalami grooming. Grooming yakni ketika seorang anak berada di bawah manipulasi orang yang lebih dewasa darinya.

Pengalaman kelam yang menimbulkan traumatis di usia 15 tahun itu ia ungkapkan melalui karya  bukunya tersebut. Tujuan child grooming adalah untuk memanipulasi, mengeksploitasi, atau melakukan kekerasan terhadap anak yang sering berkaitan dengan tindakan pedofilia yakni ketertarikan  seksual terhadap anak-anak di bawah umur.

Bukan hal yang mudah bagi perempuan kelahiran Belgia ini untuk membuka luka lamanya. Akan tetapi melalui dukungan suaminya yang mempercayai bahwa kisahnya dapat menjadi hal baik dan bermanfaat bagi perempuan. Dia pun membulatkan tekad hingga akhirnya karyanya terbit dan bisa dibaca publik.

Perempuan yang saat ini sedang hamil itu tidak menyangka bahwa bukunya mendapatkan banyak dukungan dari publik. Hingga saat ini bukunya sudah dibaca ribuan orang.

Exit mobile version